You are currently viewing Fachri Helmanto: Menumbuhkan Imajinasi Anak dari Pengalaman Menjadi Cerita

Fachri Helmanto: Menumbuhkan Imajinasi Anak dari Pengalaman Menjadi Cerita

Pada 3 Agustus 2026, Fachri Helmanto menyelesaikan Ujian Terbuka Promosi Doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta. Dalam ujian tersebut, Fachri mempertahankan disertasi berjudul Imajinasi Populer: Proses Imajinasi Penulis Anak. Peristiwa ini menjadi salah satu tahap penting dalam perjalanan akademiknya sebagai peneliti, penulis, dan pendamping kegiatan literasi.

Perjalanan Fachri menuju ruang promosi doktor berawal dari perhatiannya terhadap cerita-cerita yang ditulis anak. Ia menemukan bahwa cerita anak sering menyimpan jejak pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Nama tokoh, ruang, peristiwa, emosi, film, permainan, bacaan digital, serta figur populer muncul kembali dalam bentuk cerita.

Dari jejak tersebut, Fachri mulai memikirkan sebuah pertanyaan: apa yang sebenarnya berlangsung di antara pengalaman anak dan cerita yang ditulisnya?

Pertanyaan itu membawanya pada penelitian tentang proses imajinasi. Cerita dibaca sebagai hasil pengolahan pengalaman. Anak mengingat sesuatu, merasakan kembali pengalaman itu, mengambil bentuk dari lingkungan budaya populer, lalu menyusunnya melalui tokoh, latar, konflik, dan penyelesaian.

Proses tersebut kemudian dirumuskan Fachri sebagai Imajinasi Populer atau IPOP.

Fachri Helmanto IPOP

Dalam disertasinya, Imajinasi Populer dipahami sebagai kesadaran individu yang tumbuh dari pengalaman dan perkembangan kognitif, mengambil bentuk melalui lingkungan budaya populer, lalu diolah dan distrukturkan menjadi cerita. Definisi ini memperlihatkan bahwa imajinasi memiliki hubungan yang dekat dengan pengalaman yang dijalani anak.

Lingkungan budaya populer memberi anak berbagai bentuk simbolik. Film dapat menghadirkan figur pahlawan. Permainan dapat memberi pola petualangan. Bacaan dapat menyediakan gambaran tokoh dan konflik. Kehidupan keluarga, sekolah, serta lingkungan sosial menyediakan emosi, nilai, ruang, dan peristiwa.

Anak kemudian memilih, menggabungkan, dan menata kembali berbagai unsur tersebut.

Yang menarik bukan hanya kemunculan simbol populer dalam cerita, tetapi cara anak mengolah simbol itu menjadi bagian dari dunia naratifnya. Tokoh dalam film dapat berubah nama dan peran. Ruang sehari-hari dapat berkembang menjadi dunia imajinatif. Pengalaman sedih dapat diubah menjadi konflik. Harapan anak dapat memperoleh bentuk melalui penyelesaian cerita.

Dalam penelitian ini, pengalaman menempati posisi sebagai pusat aktivasi imajinasi. Budaya populer memberi bentuk pada pengalaman, sementara struktur kognitif naratif menyusun pengalaman tersebut menjadi rangkaian cerita.

Proses itu dapat dilacak melalui bahasa.

Nama tokoh menunjukkan cara anak membentuk identitas. Penanda ruang memperlihatkan tempat pengalaman diletakkan. Verba tindakan menggerakkan peristiwa. Ungkapan emosi membawa rasa ke dalam cerita. Konflik dan resolusi memperlihatkan cara anak menyusun ketegangan serta harapan.

Fachri merumuskan proses tersebut melalui lima tahap: membayangkan, merasakan, meniru, menyusun, dan menulis.

Tahap membayangkan menghadirkan kembali citra, tokoh, ruang, atau peristiwa. Tahap merasakan mengaktifkan emosi yang menyertai pengalaman. Tahap meniru membawa bentuk-bentuk yang dijumpai anak dalam lingkungan sosial dan budaya populer. Tahap menyusun menempatkan pengalaman ke dalam struktur tokoh, latar, konflik, dan resolusi. Tahap menulis mewujudkan seluruh proses tersebut melalui bahasa cerita.

Lima tahap ini bergerak secara berkelanjutan. Sebuah cerita yang selesai ditulis dapat menjadi pengalaman baru. Anak dapat membaca kembali ceritanya, mengingat peristiwa lain, lalu membentuk cerita berikutnya.

Dalam konteks pendidikan, model IPOP membuka cara pandang terhadap kegiatan menulis anak. Pembelajaran menulis dapat dimulai dari pengalaman yang telah dimiliki anak. Guru dan pendamping dapat mengajak anak mengenali peristiwa, emosi, tokoh, ruang, serta simbol yang paling kuat dalam ingatannya.

Dari sana, anak dapat diarahkan untuk memilih tokoh, menentukan latar, membangun konflik, serta menemukan penyelesaian.

Cara ini memberi ruang bagi pendamping untuk membaca proses yang terjadi sebelum sebuah cerita selesai. Kesulitan menulis dapat dilihat dari hubungan antara pengalaman, rasa, simbol, dan struktur naratif. Seorang anak mungkin memiliki banyak pengalaman, tetapi memerlukan bantuan untuk menyusunnya. Anak lain mungkin memiliki tokoh yang kuat, tetapi masih mencari konflik dan penyelesaian.

IPOP memberi pasangan operasional bagi setiap tahap tersebut. Pengalaman dapat dilacak melalui tuturan anak. Budaya populer dapat dibaca melalui simbol, figur, aktivitas, dan media yang muncul. Struktur naratif dapat dilihat melalui tokoh, latar, konflik, dan resolusi. Proses imajinasi dapat ditelusuri melalui pilihan bahasa dalam cerita.

Ujian promosi doktor Fachri juga mempertemukan gagasan IPOP dengan berbagai pertanyaan akademik. Para penguji mendalami posisi teori, proses kreatif, hubungan budaya populer dengan pengalaman, pembentukan struktur kognitif naratif, serta manfaat penelitian bagi pembelajaran dan pengembangan cerita anak.

Dialog tersebut memperlihatkan bahwa sebuah gagasan tumbuh melalui proses yang panjang. Temuan penelitian memperoleh bentuk melalui pembacaan data, pengujian konsep, kritik, revisi, dan pertanggungjawaban ilmiah.

Bagi Fachri, perjalanan akademik ini juga bergerak menuju pengembangan produk pendidikan. IPOP telah dikembangkan melalui buku, novel grafis, media visual, maskot, serta berbagai rancangan pembelajaran. Luaran tersebut menjadi jalan untuk membawa hasil penelitian menuju ruang yang lebih dekat dengan anak, guru, orang tua, dan komunitas literasi.

Mitra Palupi memandang perjalanan Fachri Helmanto sebagai bagian dari upaya mempertemukan penelitian dengan praktik pendampingan pendidikan. Pengetahuan memperoleh arti ketika dapat diterjemahkan menjadi cara membaca pengalaman, membantu anak menemukan bahan cerita, serta mendampingi mereka menyusun dunia imajinatifnya.

Pada titik ini, gelar doktor menandai lebih dari pencapaian akademik. Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah kegelisahan terhadap cerita anak berkembang menjadi penelitian, model, dan perangkat pendampingan.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana IPOP akan hidup di ruang kelas, keluarga, komunitas literasi, serta karya-karya anak. Di sanalah gagasan tentang imajinasi kembali kepada sumbernya: pengalaman anak yang terus tumbuh dan mencari bentuk melalui cerita.