Seni Memahami diri dan Mencapai Identitas Diri

You are currently viewing Seni Memahami diri dan Mencapai Identitas Diri
5
(3)

Ditulis oleh Siti Salma Nadhira Aulia Hidayat, Pendidikan Bahasa Arab Universitas Djuanda

Manusia awal mula dianggap seperti suatu susunan kekuatan yang rumit yang menopang dirinya melewati persepakatan-persepakatan dengan dunia luar. Tinjauan utama persepakatan tersebut adalah kontinuitas hidup individual, perkembangbiakannya bersifat evolutir. Menurut teori evolusi memang sejumlah kepribadian menyimpan kemampuan lebih dibanding yang lain dalam menyesuaikan dengan situasi sekeliling untuk tetap hidup.

Sejak awal manusia dilahirkan kedunia, mereka telah memiliki fungsi dan keunikan masing-masing dalam dirinya. Masing-masing individu mempunyai campuran unik antara ciri-ciri fisik dan gaya kepribadian. Setiap individu adalah kombinasi yang unik dari ciri-ciri fisik, emosi, mental, dan spiritual yang berbeda dari setiap yang lain. Setiap individu adalah sebuah karya seni yang tidak ada bandingannya yang berarti mereka masing-masing mempunyai tujuan unik yang tidak dimiliki orang lain (1). Semua keunikan dan fungsi tersebut pada hakikatnya dapat mereka temui dengan cara mengenali diri sendiri.

Sebuah anugrah yang tidak didapatkan oleh makhluk lain selain manusia adalah kemampuannya dalam berpikir. Pikiran yang begitu kompleks menuntut manusia untuk terus berusaha memahami pikiran itu sendiri. (2) Karena itu kita sebagai manusia dituntut untuk dapat memahami diri sendiri sebagai salah satu bentuk rasa syukur kita pada sang maha pencipta.

Dengan mengenali diri maka kita akan dapat memahami diri. Tentang apa saja yang dibutuhkan oleh diri, apa saja yang salah dalam diri, serta apa saja yang harus di perbaiki dalam diri pun akan dapat kita ketahui dengan memahami diri sendiri. Kita akan menjadi lebih percaya diri dan bersyukur dengan apa yang kita miliki. Hidup pun akan menjadi lebih terarah dan tau akan tujuannya.

Memahami diri sendiri adalah awal dari semua kebijaksanaan. – Aristoteles. Rasa marah, tidak suka, benci, dendam, merasa selalu benar, takut akan sesuatu, semua itu berasal dari dalam diri manusia sendiri yang harus dapat dipahami. Ketika manusia sudah bisa memahami semua yang ada dalam dirinya, maka saat itulah manusia akan lepas dari perasaan-perasaan buruk yang menghantuinya hingga semua kebijaksanaan terdapat dalam dirinya. 

Pada hakikatnya, tujuan akhir dari setiap nilai adalah upaya untuk membawa manusia kepada realitas hidup tertinggi, yaitu Tuhan. Dengan mencapai identitas dirinya, manusia dituntut untuk mencari realitas tersebut. Karena realitas hidup tertinggi tidak akan kita dapatkan kecuali dengan telah mencapai identitas diri.

Seorang guru pernah berkata bahwa apapun yang kita letakkan paling utama dalam hidup, itulah yang akan menjadi puncak eksistensi diri kita. Jika kita berpikir bahwa pekerjaan adalah hal yang utama karena ia mendukung kehidupan kita, sesungguhnya itu adalah sebuah jalan pemikiran yang salah. Yang sebenarnya mendukung kehidupan kita adalah the self, sang diri sejati, diri kita sendiri yakni Kesadaran-kita. Pekerjaan hanyalah salah satu channel atau saluran atau ekspresi dari the self. Akan tetapi, kita tidak menyadari akan hal ini. Kita hanya menganggap bahwa pekerjaan adalah segala-galanya, sementara kita melupakan sesuatu yang lebih besar di dalam diri kita. Itu sebabnya kita tidak pernah merasakan kebahagiaan dan kedamaian yang berkelanjutan, yang kita dapat setiap hari adalah penderitaan dan kekhawatiran yang tak berujung.

Konsep self adalah sekumpulan dari keyakinan dan persepsi diri terhadap diri sendiri yang terorganisir. Dengan kata lain, konsep diri tersebut bekerja sebagai skema dasar. Self memberikan sebuah kerangka berpikir yang menentukan bagaimana kita mengelola informasi tentang diri kita sendiri, termasuk motivasi, keadaan emosional, evaluasi diri, kemampuan, dan banyak hal lainnya (Klein, Loftus, & Burton, 1989) Orang “normal” memiliki kesan yang kuat, bahwa dirinya merupakan suatu entitas atau kesatuan yang terpisah dan berbeda dengan orang lain serta benda-benda yang ada di sekitarnya (dalam Erikson 1989).

Seandainya kita menyadari disetiap saat bahwa Tuhan akan selalu menjaga hidup kita, dan seandainya kita hidup berdasarkan kesadaran ini di mana pun kita berada serta pekerjaan apapun yang kita lakukan tanpa adanya kekhawatiran dan keraguan, maka hidup kita akan terasa lebih damai dan tentram. Kepanikan dan kekhawatiran itu sesungguhnya adalah sumber dari segala masalah. Keraguan dan ketidakhadiran iman kepada Tuhan dan menjauhnya kita dari kesadaran adalah inti masalah itu sendiri. Bahkan, kesalahan-kesalahan kecil yang sering kita lakukan adalah merasa jauh dan terpisah dari kesadaran Ilahi ini. Oleh karena itu, kita harus meletakkan perhatian dan usaha untuk menemukan kesadaran diri sebagai hal yang paling utama dalam hidup kita hingga akhirnya kita bisa menemukan diri sejati yang di dalam.(3)

Untuk sampai pada realitas hidup tertinggi itu memanglah bukan hal yang mudah untuk kita lakukan. Banyak orang yang beranggapan bahwa hal tersebut adalah sebuah kemustahilan yang dapat dilakukan oleh setiap orang, melainkan hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mencapainya. Akan tetapi, tentulah tak ada yang tak mungkin didunia ini jika sang maha kuasa telah berkehendak. apabila kita berusaha semaksimal mungkin dalam menggapainya maka kita akan mencapainya. Sesungguhnya Tuhan telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat sempurna dibandingkan dengan makhluk lain. Poin terpentingnya adalah kita sebagai manusia telah diberi akal yang patut kita optimalkan potensinya. Maka sudah sepatutnya manusia menggunakan akalnya untuk berfikir. Mengenali diri hingga memahaminya dapat kita lakukan dengan mengoptimalkan kinerja akal tersebut. 

Sesungguhnya sangatlah penting bagi kita untuk dapat mengenali diri sendiri. Karena hal ini secara tidak langsung akan berdampak pada segala aspek kehidupan kita. Baik itu dalam respon terhadap sesuatu ataupun dalam menyiasati suatu keadaan. Dengan mengenali diri, maka kita akan lebih menghargai diri sendiri. Sehingga kita akan cenderung lebih bersemangat dalam hidup dan lebih termotivasi dalam menggapai tujuan tanpa mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar yang kurang baik. Maka dimana pun kita berada dan bagaimana pun keadaanya kita akan tetap fokus pada tujuan kita yang hendak dicapai. 

Meskipun sulit dalam mengenali diri akan tetapi jika tekad kita kuat ingin berubah dan berusaha, maka hal tersebut tidak mustahil untuk kita lakukan. Ada banyak sekali cara yang dapat kita lakukan untuk mengenali diri sendiri, dikutip dari Golife.id menyebutkan bahwa pengenalan diri dapat dilakukan dengan tujuh cara. Yaitu , 1) mengenali minat dalam diri, 2) mengenali kekuatan diri, 3) menentukan visi dan misi dalam hidup, 4) memiliki value, 5) memahami bahwa tidak produktif adalah hal yang wajar sesekali kita lakukan, 6) belajar mengelola emosi, dan 7) mengenali kepribadian dalam diri. (4)

Mengenali minat terbesar dalam diri dapat kita lakukan dengan mencoba hal-hal baru yang menurut kita menarik, hingga akhirnya kita menemukan mana saja kegiatan yang kita minati dan kita senangi dalam melakukannya. 

Kekuatan diri bukan hanya terpaku pada kekuatan fisik saja lebih dari itu kita pun memiliki kekuatan dalam diri yang dapat mendorong untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kekuatan itu berupa motivasi, kecekatan, kepedulian, kemampuan untuk mengingat, loyalitas dan masih banyak lagi. Kekuatan-kekuatan ini apabila kita sadari dan kita optimalkan akan sangat bergun untuk perbaikan diri.

Misi hidup bisa juga diartikan dengan prinsip hidup di mana seseorang sudah pasti mempunyai tujuan dalam hidupnya. Tujuan tersebut dapat dipengaruhi oleh cita-cita dan juga minat seseorang. Misalnya jika kita berkeinginan untuk menjadi seorang dokter, apa yang akan kita lakukan ke depan untuk dapat mencapainya? Bagaimana caranya? Dan apa saja yang harus dipersiapkan? ini adalah sebuah bentuk misi hidup. Orang-orang yang memiliki misi dalam hidupnya cenderung akan lebih terarah dalam hidupnya. Maka dari itu, sangat penting bagi seseorang untuk menentukan misi yang hendak dicapai dalam hidupnya.

Value atau nilai dalam diri pun penting kita ketahui untuk dapat mengenali diri. Value ini juga cukup penting dalam pembentukan sebuah attitude dan gratitude selama kita beraktivitas. Nilai yang diterapkan ini akan memudahkan kita untuk dipercayai oleh orang lain yang berguna bagi perjalanan menuju goals bersama. Selain itu nilai-nilai dalam diri ini juga dapat meningkatkan motivasi dan sikap serta pikiran yang lebih positif terhadap diri kita.

Waktu yang kita gunakan dengan produktif memanglah sangat menunjang kita dalam mencapai goals lebih cepat. Akan teteapi selalu produktif juga akan membuat kita jenuh, bosan bahkan merasa terbebani dengan semua tugas yang kita emban dan harus kita selesaikan untuk mencapai goals yang kita inginkan. Maka kita harus menyadari bahwa sesungguhnya diri itu butuh istirahat. Tak akan menjadi masalah apabila kita menggunakan sedikit waktu kita untuk me-Refresh diri agar dapat mengumpulkan energinya kembali.

Selain diciptakan memiliki akal, manusia juga diciptakan memiliki emosi disetiap dirinya. Emosi inilah yang juga perlu kita kenali hingga dapat mengontrolnya dengan baik.

Mengenali diri juga dapat dimulai dengan mengenali kepribadian. Kepribadian adalah sifat bawaan lahir yang dihadiahkan Tuhan pada manusia sejak mereka lahir. Kepribadian ini juga dapat menjadi hal yang sangat urgent dalam pencapaian kesuksesan seseorang yang berpengaruh pada keberlangsungan hidup mereka. Tak jarang orang yang merasa bahwa kepribadian yang mereka miliki itu kurang baik dalam kehidupan mereka. Padahal sesungguhnya sang penciptalah yang maha tau akan apa yang dibutuhkan oleh makhluknya. Kita hanya perlu menerimanya dan memaksimalkan potensinya. Maka kita akan jauh dari rasa keputus asaan.

Seni memahami diri juga dapat kita pahami dengan sebuah introspeksi diri. Mengoreksi setiap kesalahan dalam diri, merenunginya, dan berusaha untuk memperbaikinya adalah salah satu upaya kita dalam memahami diri. Tercapainya identitas diri berarti kita telah menemukan jati diri sejati. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jati diri memiliki empat arti : 1) Ciri-ciri, gambaran, atau keadaan khusus seseorang atau suatu benda, 2) Identitas, 3) Inti, jiwa, semangat dan daya gerak dari dalam, 4) Spiritualitas. Yang mana dari keempat arti tersebut dapat kita simpulkan bahwa jati diri adalah sebuah ciri, gambaran, atau keadaan yang khusus dimiliki oleh seseorang atau suatu benda. Yang mana istilah lain dari jati diri ini adalah identitas diri.

Ketika kita mulai mencoba untuk mengenali diri sendiri dengan cara-cara tertentu, maka berarti kita telah berupaya untuk memahami diri. Memahami diri berarti mengetahui apa saja yang dibutuhkan oleh diri. Seperti yang telah disebutkan tadi, bahwa pamahaman diri akan kita dapatkan apabila kita telah mengenali diri kita dengan sebaik-baiknya. Hingga kita dapat mencapai identitas diri dan sampai pada realitas hidup tertinggi, yaitu Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Bechtle M. PERCAYA DIRI DALAM BERKOMUNIKASI. Kristianto Y, editor. Nafiri Gabriel; 2008. 
  2. Hamdani F. Memahami Diri: Antara Persepsi, Ketidaktahuan, dan Kesadaran [Internet]. www.kompasiana.com. 2020 [cited 2021 Jun 25]. Available from: https://www.kompasiana.com/hamdanny/5f2215fcd541df6987202a44/memahami-diri-antara-persepsi-ketidaktahuan-dan-kesadaran
  3. Al-Bashir S. Mencari Identitas Sejati dalam Diri [Internet]. baca.nuralwala.id. 2020. Available from: https://baca.nuralwala.id/mencari-identitas-sejati-dalam-diri/
  4. Mustika R. 7 Cara Mengenali Diri Sendiri Untuk Menentukan Tujuan Hidup [Internet]. www.golife.id. 2020 [cited 2021 Jun 25]. Available from: https://www.golife.id/cara-mempertajam-intuisi/

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

As you found this post useful...

Follow us on social media!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Leave a Reply