Seni Filsafat

You are currently viewing Seni Filsafat
0
(0)

Ditulis oleh Selindawati, Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Djuanda

Pendahuluan

Ilmu dipandang sebagai bidang kegiatan yang seakan-akan selalu terkait dengan tiga aspek perkembangan manusia, yaitu aspek kognitif yang berkaitan dengan penalaran atau pengetahuan, aspek psikomotorik yang berkaitan dengan perbuatan, dan aspek afeksi yang berkaitan dengan perasaan. Sebagian orang yang khususnya seorang yang berfilsafat, aspek perkembangan tersebut satu sama lain berkaitan dengan seni. Dengan demikian sebuah seni akan selalu berdampingan dengan sebuah ilmu. Seni dalam filsafat bisa dikatakan sebagai suatu proses, baik proses kreasi maupun proses apresiasi. Sebab, seni ini merupakan tempat melakukan suatu kreasi maupun apresiasi yang memiliki nilai.

Dalam dunia seni, proses kreasi dengan proses apresiasi sama-sama hal yang penting. Memang betul apabila berbicara mengenai seni pasti akan selalu mengaitkan dengan nilai keindahan atau estetika. Padahal seni tidak selalu berbicara tentang indah dan tidak indah, tetapi seni juga dapat dikaitkan dengan nilai moral atau etika dan nilai sosial. Komplikasi mengenai seni memang sudah menjadi salah satu pembahasan dalam dunia filsafat.

Seni filsafat secara esensial memang selalu berkaitan dengan manusia dan alat inderanya. Hal tersebut dimaksudkan kepada filsafat, karena filsafat ini sebagai ilmu yang membahas persoalan apa, mengapa, bagaimana, kapan, dan dimana. Dalam latar belakang kehidupan manusia, filsafat juga berperan untuk mempertimbangkan tentang suatu hal sebelum berperilaku. Oleh karena itu, manusia memiliki akal budi yang mampu menangkap segala persoalan di kehidupan dengan menggunakan alat indera.

Ringkasan Masalah

Pembahasan mengenai seni filsafat tentu sangat banyak untuk dituntaskan. Dengan demikian, untuk menuntaskannya tahap demi tahap akan dimulai dari sejarah filsafat, hakikat filsafat, karakteristik pemikiran dalam filsafat, cabang filsafat, dan seni filsafat.

Sejarah Filsafat

Sejarah filsafat dapat dibedakan kedalam tiga kategori besar (1), yaitu:

Filsafat India

Cara berpikir India diuraikan dengan baik oleh Filsuf dan sastrawan Rabindranath Tagore (1816-1941). Menurut Tagore filsafat India berpangkal pada keyakinan bahwa terdapat kesatuan fundamental antara manusia dan alam, harmoni antara individu dan kosmos. Filsafat India dapat dipilahkan dalam lima periode besar yaitu:

  1. Zaman Weda (2000-600 SM), masa terbentuknya Literus suci, masa rite korban dan spekulasi mengenai korban, dan masa refleksi filsafat dalam Upanisad. 
  2. Zaman Skeptisisme (200 SM-300 M), terdiri dari reaksi terhadap ritualisme dan spekulasi, Buddhisme dan jainisme, dan “kontrareformasi” dalam bentuk enam sekolah ortodoks “Saddaharsana”.
  3. Zaman Puranis (300-1200). Perkembangan karya-mitologi, terutama berhubungan dengan Shiwa dan Wisnu.
  4. Zaman Muslim (1200-1757).
  5. Zaman Modern, terdiri dari renaisance dari nilai-nilai India sebagai reaksi terhadap pengaruh-pengaruh dari luar.

Filsafat Cina

Filsafat dan kebudayaan Cina itu bertema “perikemanusiaan” pemikiran Cina yang lebih antroposentris daripada filsafat India dan filsafat Barat. Filsafat Cina juga lebih pragmatis, selalu diajarkan bagaimana manusia harus bertindak supaya keseimbangan antara surga dan dunia tercapai. Filsafat Cina dibagi menjadi atas empat periode, yakni:

  1. Zaman Klasik (600-200 SM), terdiri dari zaman seratus sekolah filsafat, dengan-sebagai sekolah-sekolah terpenting-konfusianisme. Taoisme, Yin- Yang moisme, dialektik, dan legalisme.
  2. Zaman Neo-taoisme dan budhisme (200-1000 SM).
  3. Zaman Neo-konfusianisme (1000-1900).
  4. Zaman Modern (setelah 1900), berisi tentang pengaruh filsafat Barat, renaisance dari filsafat klasik Cina, Marxisme dan Maoisme.

Filsafat Barat

Sejarah filsafat Barat dibedakan menjadi empat periode yang terdiri dari: 

  1. Zaman kuno, Filsafat Barat Zaman kuno (600-400 SM), terdiri dari Filsafat praSocrates di Yunani, Zaman keemasan Yunani: Socrates, Plato, Aristoteles; dan Zaman Hellenisme.
  2. Zaman Patristik dan skolastik, Filsafat Barat Zaman Patristik dan Skolastik (400- 1500), terdiri dari pemikiran Bapa Gereja; dan puncak filsafat abad pertengahan dalam Skolastik.
  3. Zaman modern, Filsafat Barat Zaman Modern (1500-1800), terdiri dari Zaman modern (renaisance), Zaman Barak, Zaman Fajarbudi, dan Zaman Romantik.
  4. Zaman sekarang, Filsafat Barat Zaman sekarang (setelah ±1800), yaitu Filsafat abad kesembilan belas dan dua puluh.

Hakikat Filsafat

Secara bahasa istilah filsafat berasal dari Bahasa Yunani, yakni Philos yang berarti cinta, senang, suka, dan Sophia berarti pengetahuan, hikmah, dan kebijaksanaan. Jadi Philosophia berarti cinta pengetahuan. Definisi filsafat dari pendapat beberapa para ahli filsuf (2), antara lain:

  1. Aristoteles. Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang berisi ilmu metafisika, retorika, logika, etika, ekonomi, politik dan estetika (filsafat keindahan).
  2. Cicero. Filsafat adalah ‘ibu’ dari semua seni (the mother of all the arts) dan merupakan seni kehidupan. Menurut Plato, arti filsafat adalah suatu ilmu yang mencoba untuk mencapai pengetahuan tentang kebenaran yang sebenarnya. Imanuel Kant. Filsafat adalah suatu ilmu (pengetahuan) yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang di dalamnya tercakup empat persoalan yaitu metafisika, etika agama, dan antropologi.
  3. Johann Gotlich Fickte. Filsafat adalah dasar dari segala ilmu yang membicarakan segala bidang dan segala jenis ilmu untuk mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.
  4. Paul Natorp. Filsafat adalah suatu ilmu dasar yang menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukkan dasar akhir yang sama dan juga yang memikul sekaliannya.
  5. Bertrand Russel. Filsafat adalah sebuah teologi yang berisi berbagai pemikiran tentang masalah-masalah yang pengetahuan definitif tentangnya, sampai sebegitu jauh, tidak dapat dipastikan. Namun seperti sains, filsafat dapat menarik akal manusia daripada otoritas tradisi maupun otoritas wahyu.
  6. John Dewey. Filsafat adalah suatu pengungkapan tentang perjuangan manusia secara terus-menerus dalam upaya melakukan penyesuaian berbagai tradisi yang membentuk budi pekerti manusia terhadap kecenderungan.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan filsafat adalah pandangan hidup manusia yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang memiliki tujuan. Filsafat juga dapat diartikan sebagai suatu perilaku seseorang yang sadar dalam memikirkan suatu hal secara mendalam dan melihat secara luas dengan menggunakan akal budi.

Karakteristik Pemikiran Filsafat

Pemikiran dalam berfilsafat berarti melakukan suatu pemikiran yang bebas dan secara meluas. Dalam filsafat, ilmu pengetahuan membutuhkan kebebasan dalam berpikir. Dengan demikian, berikut ini karakteristik dari pemikiran dalam filsafat (1), antara lain:

  1. Pemikiran yang bebas dan sebebas bebasnya.
  2. Pemikiran yang rasional dan kritis.
  3. Pemikiran yang esensial.
  4. Pemikiran yang abstrak.
  5. Pemikiran yang radikal.
  6. Pemikiran yang holistic.
  7. Pemikiran yang kontinu.
  8. Pemikiran yang inquiry.
  9. Pemikiran yang questioning.
  10. Pemikiran yang analisis dan diskonstruksi.
  11. Pemikiran spekulatif.
  12. Pemikiran yang inventif.
  13. Pemikiran yang sistematik.

Cabang Filsafat

Cabang dalam filsafat yang dapat diuraikan (1), adalah sebagai berikut:

  1. Epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang bersangkut paut dengan teori pengetahuan. Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti kata, pikiran, pendapat, percakapan, atau ilmu. Jadi, Epistemologi adalah suatu pikiran yang membahas tentang ilmu pengetahuan. 
  2. Metafisika berasal dari bahasa Yunani yaitu metaphyshika yang berarti sesudah fisika. Kata metafisika ini juga memiliki berbagai arti. Metafisika dapat berarti upaya untuk mengkarakteristikkan eksistensi atau realita sebagai suatu keseluruhan. Namun, secara umum metafisika adalah suatu pembahasan mengenai filsafat yang komprehensif dari seluruh realitas atau dari segala sesuatu yang ada. 
  3. Logika. Secara etimologi, logika adalah suatu pertimbangan akal atau pikiran. Sebagai ilmu, logika disebut juga logike episteme atau logica scientica yang berarti ilmu logika, namun sekarang hanya disebut logika saja. 
  4. Etika. Etika sering kali disebut sebagai filsafat moral. Istilah etika berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu ethos yang berarti sifat, watak, atau kebiasaan, dan ethikos yang berarti susila, keadaban, atau kelakuan dan perbuatan yang baik.
  5. Estetika adalah cabang ilmu filsafat yang membahas tentang seni dan keindahan. Istilah estetika berasal Yunani yaitu aesthesis yang berarti pencerapan indrawi, pemahaman intelektual, atau pengamatan spiritual.

Seni Filsafat

Seni dan filsafat pada hakikat memang dua hal yang berkaitan. Adapun maksud dari pernyataan ini adalah pada dasarnya filsafat ini sebagai suatu ilmu, maka ilmu akan bernilai apabila memiliki nilai seninya. Nilai seni dalam filsafat ini berkaitan dengan nilai estetika, nilai etika, dan nilai sosialnya. Filsafat dan seni adalah sebagai komunikasi yang kreatif, tetapi cara dan tujuannya berbeda. Filsafat adalah usaha mencari kebenaran, sedangkan seni lebih pada kreasi dan menikmati nilai. Bahkan bila seni menggunakan bahasa seperti dalam sastra, penggunaan ini tidak sama dalam filsafat. Tujuan dari seni adalah membangkitkan emosi estetik, sementara dalam filsafat, bahasa adalah alat untuk mengucapkan kebenaran (3).

Dalam dunia seni memang sulit dibedakan segala sesuatunya secara tegas. Seni sebagai unsur budaya tentu saja mempunyai fungsi dan peran yang berbeda. Seni dan juga hasil kegiatannya masih ada hingga sekarang karena seni masih fungsional bagi kehidupan manusia. Menurut Thomas Munro (dalam Alperson, 1992) seni adalah keterampilan manusia di dalam memberi rangsangan yang memuaskan terhadap pengalaman estetis. Definisi seni tersebut terkesan hanya terfokus pada persoalan pengalaman estetik dan persoalan bagaimana cara membangkitkannya (4). Seni memang bukan produk keindahan, tetapi keindahan itu merupakan suatu idealisasi yang sebaiknya melekat pada media seni. Sebab keindahan bukan hanya kesenangan inderawi, tetapi juga terletak di dalam hati. Seni dan keindahan muncul menggugat manusia dan sekaligus muncul untuk digugat oleh manusia itu sendiri. Estetika sebagai disiplin filsafat yang merfleksikan nilai-nilai estetis. Sedangkan etika cabang filsafat yang merefleksikan nilai-nilai moral (5).

Kesimpulan

Pada hakikatnya semua manusia adalah seorang ahli filsuf. Mengapa demikian? Karena, manusia dapat berpikir dengan menggunakan akal budinya untuk berpikir secara bebas dan meluas dalam perkembangan ilmu pengetahuannya dan dengan menggunakan alat inderanya. Filsafat dan seni memang sangat erat kaitannya dengan proses kehidupan manusia sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa seni dan filsafat sungguh manusiawi. Seni tidak akan ada apabila tanpa daya pikir dan filsafat tidak akan sempurna apabila tidak memiliki seni. Seni filsafat dengan metodenya yang khusus dapat dijadikan sebagai jalan keluar dalam menyelesaikan suatu permasalahan dengan sebuah pengalaman. Pada pernyataan tersebut filsafat memiliki dua pokok utama yaitu:

  1. Adanya pengakuan mengenai kemampuan manusia untuk berfilsafat. Filsafat merupakan ciri khas manusia.
  2. Semua masalah dapat difilsafatkan. Filsafat dengan metodenya yang khusus dapat dipakai sebagai jalan keluar untuk menganalisis suatu permasalahan dengan sebuah pengalaman.

Saran

Pemahaman mengenai seni filsafat menjadi lebih banyak, tetapi masih ada beberapa hal yang perlu dianalisis lebih lanjut. Oleh karena itu, dari premis yang telah didapatkan untuk mencari metode khusus dalam seni filsafat.

Referensi

  1. Adib M. Filsafat Ilmu; Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan. Cetakan II. Yogyakarta: Pustaka Pelajar; 2011. 
  2. T. Nurgiansah H. Filsafat Pendidikan. Purwokerti: CV. Pena Persada; 2020. 
  3. Susantina S. Filsafat Seni : Antara Pertanyaan Dan Tantnagan (Philosophy of Art : Between Question and Challenge). Harmon J Pengetah Dan Pemikir Seni. 2000;1(2). 
  4. P A. The Philosophy Of The Visual Art. New York: Oxford University Press; 1992. 
  5. Surajiyo. Keindahan Seni dalam Perspektif Filsafat. J Desain [Internet]. 2015;02(03). Available from: https://journal.lppmunindra.ac.id/index.php/Jurnal_Desain/article/view/581. Pada 20 Juni 2021 pukul 17.06

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

As you found this post useful...

Follow us on social media!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Leave a Reply