Pengantar Pentingnya Berfikir Ilmiah untuk Menemukan Kebenaran

You are currently viewing Pengantar Pentingnya Berfikir Ilmiah untuk Menemukan Kebenaran
0
(0)

Ditulis oleh Silviana, Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Djuanda

Berfikir sebagai hak asasi

Setiap manusia dianugrahi akal oleh  Tuhan yang maha esa untuk berfikir. Berfikir pada dasarnya adalah suatu aktivitas otak yang sering kita lakukan disetiap harinya untuk memutuskan sesuatu hingga menjadi action nyata. Dalam proses berfikir, banyak cara yang dapat ditempuh oleh seseorang, ada yang cara pikirnya pendek, asal, rumit dan ada yang cara pikirnya rasional, lmiah dan memikirkan jangka panjangnya.

Di masyarakat umum bahkan sampai tingkat akademis sering kita jumpai masih banyaknya manusia berfikir dengan cara pikir yang pendek, tidak menelusuri lebih dalam, asal dan tidak berlandaskan fakta dan kebenaran. Dengan mudahnya seseorang memutuskan sesuatu tanpa berfikir jangka panjangnya, sehingga banyak menimbulkan penyesalan-penyesalan setelahnya, hal tersebut tentu saja akan membuang-buang waktu jika dilakukan, selain itu dari berfikir yang pendek dapat pula mencelakakan diri kita dan orang banyak.

Sebagai contohnya adalah masih banyak orang yang dengan mudahnya menyebarkan berita, gambar dan tulisan, asal dia menyukai itu langsung dibagikan tanpa melihat tingkat validasi dan urgensinya. Dari hal tersebut banyak ditemukannya berita hoax di media massa, terutama media sosial yang sudah menjadi santapan dan kebutuhan manusia sehari-hari. Apalagi ditengah pandemi covid’19 yang serba digital, online atau daring ini yang sering digunakan untuk belajar, mencari informasi, dan hiburan saat di rumah aja. Dengan adanya pengantar media tersebut itu berarti dengan mudahnya berita hoax di sebarkan dan ditelan oleh masyarakat luas, karena pengguna media sosial semakin meningkat di era pandemi ini.

Berdasarkan data survei Centre for International Governance Innovation (CIGI) tahun 2019 menyebut bahwa 86 % pengguna internet di seluruh dunia pernah tertipu oleh hoaks. Sebanyak 77 % dari korban mengatakan, sumber berita palsu yang paling sering mereka kutip berasal dari Facebook.  Adapun, laporan penggunaan atau kutipan hoaks dari Facebook mencapai 67%, media sosial secara umum 65%, situs internet 60%, YouTube 56%, televisi 51% kemudian, sumber media arus utama sebanyak 45%, media cetak 44%, blog 41%, Twitter 40%, dan lainnya 25%.  Sedangkan untuk data terbaru yang dihimpun Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) yang berkolaborsi dengan cekfakta.com, jumlah hoaks yang tersebar di Indonesia mencapai 2.024. Jumlah itu terhitung sejak tanggal 1 Januari – 16 November 2020. Ketua Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugroho mengatakan, bahkan pada masa pandemi, jumlah hoaks terutama terkait kesehatan meningkat.

Data Survey atas Sumber Hoax

Sumber Hoax diperoleh dari
Facebook

67%

Sosial Media Umum

65%

Website

60%

Youtube

56%

TV

45%

Bisa dibayangkan berapa banyak orang yang akan tersesat akan pemahaman yang kita bagikan jika ternyata apa yang kita ulas itu hoax? Bisakah anda bertanggung jawab jika ada 100 orang yang terserang penyakit mental, atas ungguhan dan postingan yang kita unggah? Atau bagaimana jika ada pemahaman yang kurang tepat sehingga tidak menemukan kebenaran dan fakta akibat terlalu cepatnya menyimpulkan data dan kesimpulan tanpa berfikir dalam dan panjang tersebut? Selain itu dari ulasan dan apa yang ditampilkan di sosial media, dengan mudahnya seseorang dapat menghakimi orang lain hanya dengan melihat hitam putihnya saja, berdasarkan apa yang di lihat dan terlintas dipikiran, tanpa mau tau lebih dalam apa alasan dan sebab-sebab yang melatarbelakanginya.

Kita sebagai manusia yang dianugerahkan akal untuk berfikir yang seharusnya mengedepankan akal rasional malah mengedepankan perasaan terlebih dahulu, bagaimana bisa maju kualitas diri seseorang tanpa memperbaiki pola pikir seperti demikian? Dan bagaimana bisa seseorang dapat menemukan kebenaran yang sesungguhnya jika tidak berfikir secara ilmiah? Bahkan saat sekarang, jarang juga kita temui manusia yang terbiasa untuk bisa membedakan mana tulisan ilmiah, opini, dan yang mana tulisan yang tidak berlandaskan ilmu pengetahuan sama sekali. Tentu saja dari banyak kemungkinan negatif dan temuan di lapangan itu semua bisa  saja terjadi,   namun kita bisa mengubah dan  mengendalikannya. Oleh karena itu diperlukannya cara berfikir yang benar secara ilmiah baik yang mengulas dan menerima informasi agar tidak terjadi kesalahpahaman dan lebih bijak juga dalam menggunakan media sosial terutama dalam menerima informasi di platform manapun. Maka dari itu,  penting rasanya dalam penulisan kali ini untuk mengajak kita semua agar dapat berpikir ilmiah di kehidupan sehari-hari untuk menemukan kebenaran.

Berfikir ilmiah itu sendiri adalah berfikir dengan langkah-langkah metode ilmiah. Berfikir keilmuan bukanlah berfikir biasa,  tetapi berfikir teratur, yang berdisiplin, yang bermetode dan bersistem, dimana ide dan konsep yang sedang difikirkan tidak dibiarkan berkelana tanpa arah dan tujuan. Mereka yang berpikir Ilmiah selalu mempertanyakan sudut pandang, informasi, tujuan, dan kesimpulan dari segala sesuatu yang ia dapatkan. Mereka berusaha untuk melihat ke dalam permukaan, mengedepankan akal pikiran, dan objektifitas. Sedangkan seseorang yang tidak berpikir, berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam dan arti keberadaan dirinya di dunia. Cara sesorang untuk Berpikir Ilmiah adalah dengan menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. Sedangkan ilmiah yakni bersifat ilmu pengetahun, memenuhi syarat kaidah ilmu pengetahuan.

Upaya menemukan kebenaran

Manusia memiliki sifat yang senantiasa mencari jawaban atas pertanyaan yang timbul dalam kehidupannya. Dalam mencari ilmu pengetahuan, manusia melakukan telaah yang mencakup 3 hal: objek yang dikaji, proses menemukan ilmu, dan manfaat atau kegunaan ilmu tersebut. Untuk itu, manusia akan selalu berpikir, dengan berpikir akan muncul pertanyaan, dan dengan bertanya maka akan ditemukan jawaban yang mana jawaban tersebut adalah suatu kebenaran.

Pelaksanaan metode ilmiah ini meliputi enam tahap, yaitu:

  1. Merumuskan masalah. Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan.
  2. Mengumpulkan keterangan, yaitu segala informasi yang mengarah dan dekat pada pemecahan masalah. Sering disebut juga mengkaji teori atau kajian pustaka.
  3. Menyusun hipotesis. Hipotesis merupakan jawaban sementara yang disusun berdasarkan data atau keterangan yang diperoleh selama observasi atau telaah pustaka.
  4. Menguji hipotesis dengan melakukan percobaan atau penelitian.
  5.  Mengolah data (hasil) percobaan dengan menggunakan metode statistik untuk menghasilkan kesimpulan. Hasil penelitian dengan metode ini adalah data yang objektif, tidak dipengaruhi subyektifitas ilmuwan peneliti dan universal (dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja akan memberikan hasil yang sama).
  6.  Menguji kesimpulan. Untuk meyakinkan kebenaran hipotesis melalui hasil percobaan perlu dilakukan uji ulang. Apabila hasil uji senantiasa mendukung hipotesis maka hipotesis itu bisa menjadi kaidah (hukum) dan bahkan menjadi teori.

Metode ilmiah didasari oleh sikap ilmiah. Sikap ilmiah semestinya dimiliki oleh setiap penelitian dan ilmuwan. Adapun sikap ilmiah yang dimaksud adalah :

  1. Rasa ingin tahu
  2. Jujur (menerima kenyataan hasil penelitian dan tidak mengada-ada)
  3. Objektif (sesuai fakta yang ada, dan tidak dipengaruhi oleh perasaan pribadi. 
  4. Tekun (tidak putus asa)
  5. Teliti (tidak ceroboh dan tidak melakukan kesalahan)
  6. Terbuka (mau menerima pendapat yang benar dari orang lain)

Membentuk pola pikir dan karakter seperti ini tidaklah instan, perlu usaha dan pengalaman untuk bisa mencapai hal tersebut. Selain itu pengondisian agar dapat berfikir ilmiah di kehidupan sehari-haripun sangat menunjang perubahan pola pikir pada masing-masing pribadi. Pembiasaan cara berfikir ilmiah merupakan cara yang terbaik untuk mempertajam rasio (daya nalar). Cara berfikir seseorang yang terdidik dalam berfikir ilmiah sangat berbeda dengan cara berfikir orang-orang yang tidak tahu atau belum pernah sama sekali terlatih untuk itu.

Kesemua langkah-langkah berfikir dengan metode ilmiah tersebut harus didukung dengan alat/sarana yang baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat bantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Kemampuan berfikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berfikir dengan baik pula. Salah satu langkah kearah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana befikir tersebut dalam keseluruhan berfikir ilmiah. Berdasarkan pemikiran ini, maka tidak sukar untuk dimengerti, mengapa mutu kegiatan keilmuan tidak mencapai taraf yang memuaskan sekiranya sarana berfikir ilmiahnya memang kurang dikuasai dengan baik, atau sekiranya dari hal tersebut bisa di telaah mengapa masih banyaknya orang yang kurang objektif dalam menerima informasi apapun. Oleh karena itu, dari hal tersebut dapat kita sadari bersama tanpa penguasaan sarana berfikir ilmiah kita tidak akan dapat melaksanakan kegiatan berfikir ilmiah secara baik, oleh karenanya di perlukannya pembiasaan, salah satu cara agar kita terbiasa berfikir imiah adalah dapat dengan mengasah dan membiasakan diri agar selalu berfikir menggunakan penalaran, logika yang dapat dipertanggung jawabkan, penggunaan dan kemampuan bahasa, penerapan matematika, dan pada penggunaan statistika.

Namun pada kenyataannya, jarang dari kita untuk benar-benar mempelajari serta menerapkan kebiasaan tersebut secara keseluruhan, terkadang banyak manusia yang terlalu malas untuk berfikir panjang menelaah dan melihat bagaimana relasi suatu poin ke poin lainnya saling berhubungan, atau berfikir tentang masuk akal atau tidaknya suatu informasi itu didapat. Selain itu informasi yang diberikan yang dapat berupa tulisan, lisan, maupun grafis tersebut, semuanya itu sebenarnya harus memiliki nilai-nilai empiris. Empiris yakni kita memiliki data valid, dan bukti ilmiah pendukung atas informasi yang kita berikan. Bahkan, opini sekalipun dituntut untuk memiliki kekuatan empiris, karena hal itulah yang memperkuat opini kita. Sistem berpikir logis dan empiris seperti demikian dalam berfikir ilmiah itulah sangat penting untuk digunakan karena dapat menjadi benteng pertahanan diri agar tidak mudah di adu domba, terkena hujatan, menelan informasi hoax, atau percaya pada informasi-informasi yang tidak jelas, sehingga kita dapat membedakan dan mendapatkan pengetahuan benar yang berdasarkan ilmu pengetahuan.

Semakin kita terlatih dan menerapkan cara berfikir ilmiah, semakin banyak pula ilmu pengetahuan yang valid yang kita terima, dan kita pun akan menjadi kuat dan terbiasa juga dalam berpikir logis yang sesuai dengan kaidah-kaidah logika yang ada, seperti membiasakan diri dalam menerapkan cara berfikir ilmiah dan memiliki sikap ilmiah dalam kehidupan sehari-hari untuk menemukan kebenaran, Hal tersebut tentu sangat berguna agar kita lebih bijaksana dalam  menerima dan menyebarkan informasi atau berita pada siapapun, termasuk di sosial media. Selain itu dari berfikir ilmiah, kita juga dapat menemukan kebenaran-kebenaran lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan dalam rangka untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan informasi untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari. Namun, Jika kita memang sedang belajar berfikir ilmiah, dan belum mempunyai ilmu pengetahuan yang cukup, cukuplah tidak berbicara melampaui dari apa yang kita tahu, atau tidak asal-asalan membagikan tulisan seseorang, hanya karena perasaan menyukai suatu tulisan/berita/pernyataan tersebut tanpa melihat isinya benar atau tidak.

Referensi

  1. lj982347kkjdf.2016. Berpikir Ilmiah sebagai Suatu Kebutuhan. Qureta.Diakses 24 Juni      2021  melalui https://www.qureta.com/post/berpikir-ilmiah-sebagai-suatu-kebutuhan
  2. Syahdan Nurdin, ApriliaSraan.28 Februari 2021. Manusia Pemikir ilmiah.Yahoo!Berita.Diakses pada 24 Juni 2021 melalui https://www.google.com/amp/s/id.berita.yahoo.com/amphtml/manusia-pemikir-ilmiah-055301745.html
  3. Afid Burhanuddin.2013.Berfikir Ilmiah. Diakses pada 24 Juni 2021 melalui https://www.google.com/amp/s/afidburhanuddin.wordpress.com/2013/09/23/berfikir-ilmiah/amp/
  4. Cindy Mutia Annur.17 Juni 2019. Survei 86% Pengguna Internet Pernah Tertipu Hoaks.Katadata.co.id. Diakses pada 21 Juni 2021 melalui https://katadata.co.id/pingitaria/digital/5e9a5187a99a1/survei-86-pengguna-internet-pernah-tertipu-hoaks
  5. Wahyunanda Kusuma Pertiwi.20 November 2020.Jumlah Hoaks di Indonesia Meningkat, Terbanyak Menyebar lewat Facebook.Kompas.Diakses pada 21 Juni 2021 melalui https://tekno.kompas.com/read/2020/11/20/07385057/jumlah-hoaks-di-indonesia-meningkat-terbanyak-menyebar-lewat-facebook?page=all#page2
Cara mengutip artikel ini

Silviana (2021, Juli 21). Pengantar Pentingnya Berfikir Ilmiah untuk Menemukan Kebenaran. Retrieved from https://mitrapalupi.com/pengantar-pentingnya-berfikir-ilmiah-untuk-menemukan-kebenaran

You might like …

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

As you found this post useful...

Follow us on social media!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Leave a Reply