Pendekatan Filosofi Terhadap Konsep Kecantikan Dalam Alam

You are currently viewing Pendekatan Filosofi Terhadap Konsep Kecantikan Dalam Alam
0
(0)

Ditulis oleh Erika Selena Putri, Pendidikan Bahasa Arab Universitas Djuanda

Seputar Kecantikan

Keelokan merupakan orientasi nilai yang posisinya di aksiologi serta estetika, serta terletak pada diri manusia dalam wujud pengalaman.“ Prinsip keelokan tidaklah thinking something beautiful, namun thinking beautifully,” Sebaliknya keelokan di dalam alam dapat mewujud di dalam sublim. Sublim ialah tampilan alam yang malah seram ataupun menakutkan, kalau keburukan( the ugly) ialah wujud lain dari keelokan( beautiful).

Karya Naomi Wolf, The Beauty Myth, kecantikan cumalah mitos belaka. Bagi Wolf, kecantikan itu bertabiat tidak senantiasa serta tidak umum. Maksudnya kecantikan itu bermacam- macam wujudnya ditiap daerah dapat berbeda- beda, dapat berubah- ubah( berevolusi) serta subjektif( masing- masing orang mempunyai selera menawan yang berbeda- beda). Tetapi sepanjang ini standar kecantikan sudah jadi mitos dalam warga. Bagi Immanuel Kant ialah seseorang filosof Jerman yang eksis pada Abad Pencerahan( 17- 18 Meter) lewat karya tulisnya yang bertajuk Critique of Aesthetic Judgment. Baginya, kalau apa yang dinilai dari suatu kecantikan merupakan perkara kesenangan, yang sama sekali subjektif( bagi pemikiran individu).

Immanuel Kant merupakan seorang filosof Jerman yang sangat eksis pada Abad Pencerahan (17-18 M) yang cukup serius dalam menjelaskan masalah persoalan ini, melalui karya tulisnya yang berjudul Critique of Aesthetic Judgment. Menurutnya, bahwa apa yang dinilai dari sebuah kecantikan itu adalah persoalan kesenangan, yang sama sekali subjektif (menurut pandangan pribadi). Kant menolak hal itu, karena kecantikan tidak hanya terhenti pada pangkal perasaan, ada juga sesuatu yang jauh lebih luhur didalam kecantikan daripada hanya yang disandarkan pada perasaan.

Kant menolak perihal itu, kecantikan tidak cuma terhenti pada pangkal perasaan, terdapat suatu yang jauh lebih luhur didalam kecantikan daripada cuma yang ditumpukan pada perasaan. Secara subjektif, keelokan ataupun kecantikan merupakan suatu yang tanpa lewat proses perenungan, jadi seorang tidak lagi membutuhkan proses perenungan ataupun proses berpikir secara mendalam buat menerima sinyal kecantikan. Kecantikan serta keelokan mengalir secara kodrati, serta bisa diterima secara langsung oleh tiap orang yang memandang objek tersebut.

St Thomas Aquinas membagikan pendapatnya menimpa kecantikan secara subjektif, dia mengatakan kalau yang indah merupakan yang” mengasyikkan hati kita kala dilihat”. Suatu yang” mengasyikkan hati” disini pastinya bukan hasil dari pertimbangan ide, melainkan seluruhnya merupakan sinyal yang diterima langsung oleh perasaan. Kembali pada komentar Aquinas diatas, kalau seluruh perihal yang bisa membagikan kesenangan secara psikis( lebih tepatnya), merupakan suatu yang bisa kita katakan indah ataupun menawan.

Ukur Kecantikan

Keelokan ataupun kecantikan secara subjektif sangat sukar ditemui barometernya, sebab kecantikan bagi perseorangan tidak cuma ditumpukan pada kesenangan hati, nyatanya pula banyak diintervensi oleh banyak perihal diluar evaluasi orang. Misalnya, evaluasi seorang terhadap kecantikan pula berhubungan kepada perkara sosial- budaya, area sosial dll.

Boleh saja, seorang ataupun suatu itu dinilai indah oleh orang- orang di wilayah A, tetapi belum pasti tolak ukur evaluasi tersebut pula berlaku pada orang- orang di wilayah B ataupun wilayah yang lain. Maksudnya merupakan, kecantikan serta keelokan secara subjektif pula bisa dikabulkan oleh hal- hal diluar orang itu sendiri. Begitupula pula berlaku pada ketampanan seseorang laki- laki, pada tiap tatanan warga mempunyai sudut pandang yang berbeda menimpa apakah seseorang laki- laki tersebut dikatakan tampan ataupun tidak. Oleh karena itu, perkara keelokan secara subjektif sangat kabur buat dapat kita pahami secara mendetail.

Sekarang marilah kita ketahui bagaimana konsep dalam keindahan atau kecantikan secara objektif. Kant bisa dibilang cukup serius untuk bisa membuktikan bahwasannya keindahan atau estetika dapat berdiri sendiri sebagaimana sebuah pengetahuan. Menurut para filosof, keindahan atau kecantikan dapat ditemukan dalam objek yang memenuhi bentuk, keseimbangan, dan proporsi.

Di dalam pergaulan di masyarakat, penampilan fisik perempuan menjadi standar atau patokan ideal untuk menilai seorang perempuan. Kecantikan juga berhubungan sangat erat dengan bagaimana cara berpakaian yang baik, berperilaku yang baik, dan semua yang berkaitan dengan cara memperlakukan tubuh dengan baik, juga disebut dengan tindakan moralitas. Oleh sebab itu, perempuan berperilaku baik, berpenampilan sesuai nilai dan norma, bisa disebut sebagai perempuan yang dapat menjaga moral. Namun, masing-masing budaya memiliki kekhasan (tipikal) kecantikan yang ditunjukkan melalui ciri-ciri fisik dan nonfisik, yang bersifat komulatif, mencakup ukuran-ukuran tubuh tertentu yang ideal, misalnya kulit putih, rambut hitam, badan kurus, pinggang ramping.

Cantik menurut pandangan atau penilaian sebagian orang belum tentu sama dengan yang lain. Karena, bisa jadi menurut orang lain cantik namun belum tentu yang lainnya tidak cantik. Poin terpenting adalah bagaimana seorang wanita mampu tampil secara percaya diri dengan kulit yang bersih dan sehat serta kepribadian yang baik dan menarik, serta kepribadian (inner beauty) yang baik, kecantikan tidak selalu dinilai dari persoalan paras saja, tetapi perilaku, kecerdasan, dan percaya diri. Meskipun demikian, memiliki penampilan yang cantik dan menawan tetap menjadi keinginan setiap wanita, Prinsip dasar kecantikan kulit adalah kebersihan, menjaga pola makan dan tidur secara teratur.

Bagaimana cara untuk memahami keindahan?

Bagaimana cara untuk memahami keindahan? adalah dengan melihat segala sesuatu dalam kerangka pengalaman estetis dan kerangka pikir berhadapan dengan alam melalui pendekatan-pendekatan yang ada, ambiguitas dalam keindahan itu harus dipandang sebagai perspektif baru. Kita tidak bisa membatasi keindahan atau kecantikan hanya dengan standar tertentu saja.

Kecantikan dan keindahan secara subjektif juga bisa dapat dikabulkan oleh hal-hal diluar individu itu sendiri. Begitupula berlaku juga dengan ketampanan pada seorang pria, pada setiap tatanan masyarakat memiliki suatu sudut pandang yang berbeda mengenai apakah seorang pria tersebut bisa dikatakan tampan atau tidak. Oleh sebab itu, persoalan keindahan secara subjektif sangat kabur untuk bisa kita pahami secara mendetail. Kecantikan itu, bagi para filsuf kuno hingga seorang Leonardo da Vinci menempatkan keindahan dalam simetri, bentuk, keseimbangan, dan proporsi. Platon  mengatakan kecantikan ditemukan dalam ukuran dan ukuran yang tepat.

Untuk menjadi cantik setiap, makhluk hidup, dan setiap keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian, tidak hanya harus menyajikan urutan-urutan tertentu dalam pengaturan bagian-bagiannya, tetapi juga harus memiliki sesuatu besaran yang pasti. Kecantikan adalah suatu masalah ukuran dan ketertiban, Keindahan adalah suatu tanda dari yang dibuat dengan baik, apakah itu alam semesta ataupun objek. Dan benda-benda indah memiliki kesatuan, kejelasan, dan proporsi. Kecantikan adalah refleksi fisik dari Tuhan yang mnciptakannya dengan sempurna. Ini tampaknya sangat relevan dengan estimasi keindahan seorang wanita. Susan Faludi menulis eksterior yang tidak bercela menjadi bukti kemurnian, kepatuhan, dan pengekangan internal wanita.” 

Seorang Darwin mengamati nilai ornamen kecantikan dalam hal menarik pasangan yang ideal. Sains memberikan kita penjelasan tentang apa yang kita anggap indah, tetapi sains juga bisa menjadi jebakan. Jika fakta ilmiah menginformasikan standar budaya kita (karena inilah sebabnya menurut antropolog beberapa standar budaya kecantikan itu bersifat universal), maka memenuhi cita-cita ilmiah kecantikan dapat membahayakan filosofis seseorang, jika tidak kesehatan fisik.

Beberapa orang berpikir bahwa hidup sesuai dengan standar kecantikan budaya / biologis itu tidak masuk akal. Mereka berpikir bahwa biologi bukanlah jawaban untuk segalanya. Hanya berdebat untuk kebenaran sempurna reduksionisme dengan seorang filsuf. Kita akan segera melihat apa yang saya maksud. Sekarang, jika beberapa orang merasa bahwa cita-cita keindahan budaya kita itu tidak realistis (atau tidak dapat diraih), ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang indah selain manifestasi dari dorongan biologis atau standar budaya.

Seorang  Filsuf Jerman Immanuel Kant menulis dalam Critique of Aesthetic Judgment : Tidak ada ilmu tentang yang indah, tetapi hanya kritik. Untuk ilmu tentang suatu yang indah kita harus menentukan secara ilmiah, apa yang melalui bukti, apakah sesuatu itu dianggap suatu indah atau tidak; dan hukuman atas keindahan, akibatnya, akan, jika menjadi bagian dari sains; gagal menjadi penilaian selera.

Jadi, jika kita bertanya apakah suatu kecantikan itu semata-mata fisik?  Beberapa mungkin mengatakan jawabannya tidak. Kecantikan tidak eksklusif untuk fisik seseorang; apakah seseorang dinilai “cantik”, “tampan”, atau “seksi”. Apakah seseorang bisa menjadi cantik tanpa menjadi menarik secara fisik?.

Ada sebuah alasan mengapa kita mengatakan suatu kecantikan ada di mata yang melihatnya, dan kulit satu-satunya yang indah itu dalam, dan yang penting adalah bagian dalam. Iya, sampai taraf tertentu sebuah persepsi kita tentang keindahan adalah budaya, bahkan kadang-kadang secara fisik, tetapi keindahan juga merupakan suatu masalah selera pribadi.

Referensi

  1. Abdul  Wahab.  1995.  Teori  Semantik. Surabaya:  Airlangga University Press.
  2. Featherstone,  Mike, “Lifestyle and Consumer Culture”. Theory,  Culture & Society 4, 1987
  3. Bungin,  Burhan.  2007. Konstruksi Sosial Media Massa. Jakarta:  Kencana Prenada Media Group.
  4. Kasiyan.  2008. Manipulasi dan Dehumanisasi Perempuan Dalam Iklan.Yogyakarta:  Ombak.
  5. Moleong,  Lexy J.  2006.  Metode PenelitianKualitatif.  Bandung:  PT.Remaja Rosdakrya.
  6. Melliana  S, Annastasia.  2006. Menjelajah  Tubuh:  Perempuan  dan  Mitos  Kecantikan. Yogyakarta: LKIS
  7. Nazir,  Mohammad.  Metode Penelitian,  Jakarta : Ghalia Indonesia.  1988.
Cara mengutip artikel ini

Putri, E.S. (2021, Juli 19) Pendekatan Filosofi Terhadap Konsep Kecantikan dalam Alam. Retrieved from https://mitrapalupi.com/pendekatan-filosofi-terhadap-konsep-kecantikan-dalam-alam/

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

As you found this post useful...

Follow us on social media!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Leave a Reply