Pembahasan Tentang Kritis Berpikir

You are currently viewing Pembahasan Tentang Kritis Berpikir
5
(2)

Ditulis oleh Firda Amalia, Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Djuanda

PENDAHULUAN

Berpikir kritis saat ini menjadi salah satu tujuan penting dari pendidikan. Di berbagai negara, berpikir kritis telah menjadi salah satu kompetensi, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dalam pendidikan. Berpikir kritis merupakan kemampuan yang sangat esensial untuk kehidupan dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan. Para pendidik telah lama menyadari pentingnya kemampuan berpikir kritis sebagai salah satu output dari proses pembelajaran. Keterampilan berpikir kritis juga dinyatakan sebagai salah satu modal dasar atau modal intelektual yang sangat penting bagi setiap orang dan merupakan bagian yang fundamental dari kematangan manusia .

  Para ahli telah melakukan penelitian tentang berpikir kritis dan bagaimana membelajarkannya selama lebih dari 100 tahun. Bahkan Socrates sudah menggunakan pendekatan berpikir kritis dalam pembelajaran hampir 2000 tahun yang lalu. Berbagai kajian menunjukkan bahwa berpikir kritis merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan diketahui berperan dalam perkembangan moral, sosial, mental, kognitif, dan sains .
Tulisan ini akan mengetengahkan ragam asesmen berpikir kritis dan usulan asesmen berpikir kritis yang dimodifikasi dari Illinois Critical Thinking Essay Test yang dikembangkan oleh Finken dan Ennis dengan format minimal structure.

PEMBAHASAN 

Berpikir Kritis 

Terdapat berbagai pengertian mengenai berpikir kritis. Kata kritis berasal dari bahasa Yunani yaitu kritikos dan kriterion . Kata kritikos berarti «pertimbangan‟ sedangkan kriterion mengandung makna »ukuran baku‟ atau «standar‟. Secara etimologi, kata ‟kritis‟ mengandung makna »pertimbangan yang didasarkan pada suatu ukuran baku atau standar‟. Halpern menyatakan berpikir kritis sebagai kemampuan kognitif atau strategi kognitif yang dapat meningkatkan output yang diharapkan, dalam jangka panjang pemikir kritis akan memiliki output yang lebih daripada bukan pemikir kritis.

 Berpikir kritis adalah tujuan, alasan dan pengarah pada tujuan. Kemampuan berpikir kritis meliputi pemecahan masalah, membuat kesimpulan, menghitung kemungkinan, dan membuat keputusan. Masih banyak lagi definisi berpikir kritis. Proulx mendefinisikan berpikir kritis sebagai sebuah proses menurut langkah-langkah untuk menganalisis, menguji, dan mengevaluasi argumen.

Orang yang mampu berpikir kritis adalah orang yang mampu menyimpulkan apa yang diketahuinya, mengetahui cara menggunakan informasi untuk memecahkan permasalahan, dan mampu mencari sumber-sumber informasi yang relevan sebagai pendukung pemecahan masalah. Orang yang mampu berpikir kritis adalah orang yang mampu menyimpulkan apa yang diketahuinya, mengetahui cara menggunakan informasi untuk memecahkan suatu permasalahan, dan mampu mencari sumber-sumber informasi yang relevan sebagai pendukung pemecahan masalah .

Kriteria Berpikir Kritis 

Berpikir kritis terdiri atas berbagai komponen atau aspek. Banyak para ahli menyampaikan komponen atau aspek tersebut, di antaranya Bassham (2002) menyatakan bahwa komponen berpikir kritis mencakup aspek kejelasan, ketepatan, ketelitian, relevansi, konsistensi, kebenaran logika, kelengkapan dan kewajaran. Menurut Paul dan Elder (2002) selain aspek–aspek yang telah dikemukakan oleh Bassham perlu ditambahkan dengan aspek keluasan kemaknaan dan kedalaman dari berpikir kritis. 

Pendapat mengenai komponen berpikir kritis juga bervariasi. Para ahli membuat konsensus tentang komponen inti berpikir kritis seperti interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, penjelasan dan pengaturan diri (APPA, 1990). Walker (1999) menyatakan bahwa karakter berpikir kritis adalah menjawab pertanyaan, merumuskan masalah, meneliti faktafakta, menganalisis asumsi dan memikirkan interpretasi. 

Garnison dkk. (2001) membagi empat keterampilan berpikir kritis, yaitu: (1) trigger event (cepat tanggap terhadap peristiwa), yaitu mengidentifikasi atau mengenali suatu isu, masalah, dilema dari pengalaman seseorang, yang disampaikan guru atau siswa lain, (2) exploration (eksplorasi), memikirkan ide personal dan sosial dalam rangka membuat persiapan keputusan, (3) integration (integrasi), yaitu mengkonstruksi maksud atau arti dari gagasan, dan mengintegrasikan informasi relevan yang telah diberikan pada tahap sebelumnya, dan (4) resolution (mengusulkan), yaitu mengusulkan solusi secara hipotetis, atau menerapkan solusi secara langsung kepada isu, dilema, atau masalah serta menguji gagasan dan hipotesis.

Menurut Wade (1995) ada delapan karakteristik dari berpikir kritis yaitu: 1) kegiatan merumuskan pertanyaan, 2) membatasi permasalahan, 3) menguji data-data, 4) menganalisis berbagai pendapat dan bias, 5) menghindari pertimbangan yang sangat emosional, 6) menghindari penyederhanaan berlebihan, 7) mempertimbangkan berbagai interpretasi, dan 8) mentolerasi ambiguitas. Selanjutnya Fisher (2011) menekankan pada indikator keterampilan berpikir kritis yang penting meliputi: (1) mengatakan kebenaran pertanyaan atau pernyataan; (2) menganalisis pertanyaan atau pernyataan; (3) berpikir logis; (4) mengurutkan, misalnya secara temporal, secara logis, secara sebab-akibat; (5) mengklasifikasi, misalnya gagasangagasan, objek-objek; (6) memutuskan, misalnya apakah cukup bukti; (7) memprediksi (termasuk membenarkan prediksi); (8) berteori; dan (9) memahami orang lain dan dirinya.

Asesmen Berpikir Kritis yang Dikenal 

Asesmen berpikir kritis penting dilakukan karena beberapa tujuan, di antaranya berikut.

  • Diagnosis tingkat kemampuan berpikir kritis dan watak siswa, sehingga guru dapat memutuskan apa yang akan diajarkan. 
  • Umpan balik terhadap siswa tentang kemampuan berpikir kritis mereka, sehingga guru dapat memutuskan apa yang harus dilakukan tentang hal itu. 
  • Motivasi kepada siswa untuk menjadi pemikir kritis yang lebih baik. 
  • Informasi pada guru tentang keberhasilan upaya mereka dalam mengajar berpikir kritis kepada siswa. 
  • Informasi untuk penerimaan siswa dan bimbingan terhadap siswa. 
  • Informasi untuk kebijakan sekolah dan hal-hal lain yang dapat dipertanggungjawabkan terkait kemampuan berpikir kritis siswa.

 Kedua alasan terakhir sering disebut penilaian yang high-stakes, yaitu “penilaian kepentingan tinggi”. Seperti dijelaskan sebelumnya, asesmen berpikir kritis dapat dilakukan untuk berbagai tujuan. Semakin tinggi penggunaan hasil asesmennya (high-stakes) dan semakin besar dana yang diperlukan, akan semakin rendah tujuan yang dapat dicapai (Ennis, 2011). Secara khusus, kelengkapan aspek berpikir kritis menjadi hambatan dalam asesmen yang high-stakes. Ennis (2001) juga menunjukkan berbagai tes mengenai berpikir kritis yang telah dipublikasi. Ragam tes tersebut dikelompokkan berdasarkan tujuannya apakah mengases satu aspek atau lebih dari satu aspek berpikir kritis. Ketiga adalah tes essay minimal structure yang merupakan bentuk paling sederhana karena terdiri dari suatu pertanyaan yang harus dijawab atau suatu masalah yang harus ditangani. Contoh tes essay minimal structure adalah Illinois Critical Thinking Essay Test yang dikembangkan oleh Finken dan Ennis (1993). Pada Illinois Critical Thinking Essay Test tersebut siswa diminta untuk mencari solusi tentang peraturan mengenai video musik dan mempertahankan solusi tersebut.

Pada saat menjadi direktur dari Cornell Critical Thinking Project pada tahun 1958- 1970, Ennis mengembangkan Cornell Critical Thinking Tests yang difokuskan pada aspek induksi, kredibilitas, prediksi, kekeliruan, deduksi, definisi, dan identifikasi asumsi. Selanjutnya Ennis mengembangkan Ennis-Weir Critical Thinking Essay Test dengan Weir. Tes ini fokus pada kebenaran, memberikan alasan, mengasumsikan, menilai pernyataan, memberikan alasan tepat, mencari alasan alternatif, menghindari penolakan, hal-hal yang tidak relevan, circularity, generalisasi berlebih dan bahasa yang tidak terarah. Pada tahun 1964 Ennis dan tim mempublikasikan Cornell Class-Reasoning Test dan Cornell ConditionalReasoning Test (Paul dkk., 1997).

Usulan Asesmen Berpikir Kritis

Terintegrasi Tes Essay Ketrampilan berpikir kritis merupakan salah satu kecakapan hidup personal yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis dapat dilatihkan dengan beragam cara. Pada konteks belajar di kelas, kemampuan berpikir kritis dapat diintegrasikan bersama penerapan ragam model pembelajaran, seperti dicontohkan Zubidah. Selain pengembangan kemampuan berpikir kritis melalui pembelajaran, sisi lain dari berpikir kritis yang perlu diperhatikan adalah pengukurannya. Salah satu tujuannya, jelas bahwa untuk mengetahui keberhasilan pengembangan kemampuan tersebut. Seperti telah disinggung pada awal tulisan, Ennis menyarankan agar asesmen berpikir kritis terus dikembangkan. Selama ini belum ada kesepakatan pasti mengenai definisi berpikir kritis sehingga peluang pengembangan asesmen berpikir kritis berdasarkan berbagai definisi terbuka luas.
.

Menurut Ennis (2001) tes untuk mengukur kemampuan berpikir kritis, dapat dibedakan menjadi tes spesifik untuk suatu topik dan tes yang umum (untuk semua topik). Tes berpikir kritis spesifik untuk suatu topik mengukur hanya satu topik atau subjek saja, sedangkan tes berpikir kritis umum mengunakan konten dari berbagai bidang atau bersifat umum. Komite National Academy of Education merekomendasikan untuk mengembangkan tes berpikir tingkat tinggi yang spesifik untuk suatu subjek. Pemahaman penuh mengenai suatu subjek atau topik menunjukkan bahwa seseorang dapat berpikir dengan baik pada suatu subjek. Ennis mengatakan bahwa belum ada tes berpikir kritis yang spesifik untuk suatu subjek yang tujuan utamanya adalah mengukur berpikir kritis pada suatu bidang atau topik yang spesifik (Ennis 2001). 

Terdapat banyak publikasi yang mengetengahkan asesmen berpikir kritis, yang sebagian besar berformat tes pilihan ganda. Tes tersebut memiliki kelebihan dalam hal efisiensi dan biaya, namun saat ini dianggap kurang komprehensif. Penyusunan tes pilihan ganda yang baik memerlukan banyak waktu dan membutuhkan serangkaian revisi, uji coba, dan serangkaian revisi ulang. Tulisan Norris & Ennis (1989) dapat dipelajari jika ingin mengembangkan asesmen berpikir kritis dengan format tes pilihan ganda. 

Menurut Ennis, asesmen yang dikembangkan untuk kemampuan berpikir kritis sebaiknya berformat tes open ended dibandingkan dengan tes pilihan ganda, karena tes open ended dinyatakan lebih komprehensif. Berikut ini beberapa macam asesmen berpikir kritis berformat tes open ended yang disampaikan Ennis (2011).

1. Tes pilihan ganda dengan penjelasan tertulis.

2. Tes essay berpikir kritis 

3. Tes unjuk kerja (performance assessment) 

Pada usulan asesmen berpikir kritis dalam tulisan ini, lebih cenderung pada format tes essay. Format asesmen ini disusun berdasarkan berbagai pertimbangan, di antaranya bentuk soal tes yang sering digunakan para pendidik di Indonesia. Reiner dkk. (2002) menjelaskan bahwa pada umunya para pendidik lebih memilih bentuk pertanyaan essay daripada bentuk lain karena bentuk essay mendorong siswa untuk menunjukkan respon atau jawaban daripada hanya memilih jawaban. Beberapa ahli pendidikan menggunakan tes essay karena mempunyai potensi untuk mengungkap kemampuan siswa untuk mengungkapkan alasan, menyusun, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Beberapa kelebihan tes essay adalah 1) dapat digunakan untuk menilai kemampuan berpikir tingkat tinggi atau kemampuan berpikir kritis, 2) dapat mengevaluasi proses berpikir dan bernalar siswa, dan 3) memberikan pengalaman autentik.

KESIMPULAN 

“Berpikir kritis bisa dipelajari, bisa diperkirakan, dan bisa diajarkan (Facione, 2010)”. Selama ini belum ada kesepakatan pasti mengenai asesmen berpikir kritis sehingga peluang pengembangan asesmen berpikir kritis terbuka luas. Berpikir kritis telah diketahui sangat penting untuk kehidupan seseorang. Berpikir kritis dapat dilatih melalui berbagai cara. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa berpikir kritis dapat diintegrasikan dalam pembelajaran. Untuk melihat keberhasilan dalam upaya memberdayakan keterampilan berpikir kritis perlu dilakukan suatu pengukuran atau asesmen. Berbagai cara asesmen telah dikembangkan oleh para ahli, namun keterpakaian dalam pembelajaran sangat bervariasi. Pada tulisan ini telah disampaikan rubrik berpikir kritis yang diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif asesmen keterampilan berpikir kritis terintegrasi tes essay, yang dimodifikasi dari Finken dan Ennis (1993).

DAFTAR PUSTAKA

(Zubaidah & Corebima Aloysius, 2015)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

As you found this post useful...

Follow us on social media!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Leave a Reply