Pemakaian Tanda Baca Bahasa Indonesia

You are currently viewing Pemakaian Tanda Baca Bahasa Indonesia
5
(1)

Dikompilasi oleh Arif Hidayat, Universitas Nusa Mandiri

Tanda Titik

Tanda titik dipakai pada
1. akhir kalimat, fungsi tanda titik pada akhir kalimat merupakan penutup untuk kalimat pernyataan.
Contoh:
Mentari bersinar di pagi hari.
Kicau burung terdengar merdu.

2. akhir singkatan nama
Contoh:
W.S. Rendra
Dindon W.S.

3. akhir singkatan gelar
Contoh:
dr. (dokter)
S.Pd (Sarjana Pendidikan)

4. akhir singkatan pangkat
Contoh:
Let. (Letnan)
Kol. (Kolonel

5. akhir singkatan sapaan
Contoh:
Sdr. (saudara)
Ny. (nyonya)

6. akhir singkatan jabatan
Contoh:
Ka. (Kepala)
Dir. (Direktur)

7. akhir singkatan umum
Terdiri atas:
i. dua huruf
Contoh:
s.d. (sampai dengan)
a.n. (atas nama)
u.p. (untuk perhatian)
d.a. (dengan alamat)

ii. lebih dari dua huruf
Contoh:
dkk. (dan kawan-kawan)
tsb. (tersebut)
dsb. (dan sebagainya)

8. angka pemisah ribuan yang menyatakan jumlah
Contoh:
Novel itu memiliki 1.230 halaman.
Minyak sayur sebanyak 5.000 liter tumpah.
Jarak dari kota ke desa itu 20.000 meter.

9. angka penunjuk waktu
Contoh:
Kereta Taksaka tujuan Jogjakarta berangkat pukul 10.10 WIB
Pemutaran film Avenger End Game selama 03.12.15 jam (3 jam 12 menit 15 detik)

Tanda Koma

Pemakaian tanda koma adalah sebagai berikut, tanda koma digunakan:

1. diantara unsur-unsur dalam pemerincian atau pembilangan
Contoh
Presiden Jokowi memberikan hadiah berupa jam tangan, sepeda, sepatu, dan uang tunai.
Satu, dua, … tiga!

2. untuk memisahkan kalimat setara yang didahului oleh kata (tetapi, melainkan, dan sedangkan)
Contoh:
Dia bukan mahasiswa Tarumanegara, melainkan mahasiswa Borobudur.
Saya bersedia membantu, tetapi kau kerjakanlah dahulu tugas itu.
Ibu memasak ikan di dapur, sedangkan Ayah membaca koran di teras.

3. untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimat. Umumnya diawali dengan kata penghubung (bahwa, karena, agar, sehingga, walaupun, apabila, jika, meskipun)
Contoh
Apabila belajar dengan sungguh, Saudara akan berhasil dalam ujian.
Jika hujan turun, jalan utama akan tertutup dengan air.

4. di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat. Biasanya kata tersebut adalah (oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi, namun, meskipun demikian, dalam hubungan itu, sementara itu, sehubungan dengan itu, dalam pada itu, oleh sebab itu, sebaliknya, selanjutnya, pertama, kedua, misalnya, sebenarnya, bahkan, selain itu, kalau begitu, kemudian, malah, padahal)
Contoh
Namun, kita harus tetap waspada.
Selanjutnya, kita akan membicarakan masalah lain

5. di belakang kata (o, ya, wah, aduh, kasihan) yang terdapat pada awal kalimat.
Contoh:
Aduh, betulkah saya dapat berjumpa BlackPink?
O, kalau begitu saya setuju.

6. untuk memisahkan petikan langsung
Contoh:
Kata petugas, “Kamu harus berhati-hati di jalan raya.”
“Saya sedih sekali,” kata Tante, “karena kamu belum tonton Avengers Endgame.”

7. di antara (1) nama dan alamat, (2) bagian-bagian alamat, (3) tempat dan tanggal, dan (4) nama tempat dan wilayah yang ditulis berurutan
Contoh:
Bandung, 7 Mei 2017
Jakarta, Indonesia

8. di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya
Contoh
Fachri Helmanto, M.Pd
Sudarsono, S.E., M.A.

9. untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi
Contoh:
Seorang warga, selaku wakil RT 02, mengemukakan pendapatnya. (keterangan tambahan)
Produsen minyak terbesar dalam OPEC, Arab Saudi, sudah mengusulkan supaya harga minyak dapat ditetapkan segera. (keterangan aposisi)

Tanda Titik Koma

Tanda titik koma bisa digunakan dalam:
1. memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh:
Malam semakin larut saja; tugas belum juga selesai.

2. memisahkan kalimat yang setara pada kalimat majemuk.
Contoh:
Ibu sibuk memasak di dapur; Ayah mengurus ayam jagonya di belakang rumah; Adik sibuk menggambar; aku sendiri asyik menonton siaran langsung pertandingan sepak bola.

3. memisahkan dua kalimat setara atau lebih apabila unsur-unsur setiap bagian itu dipisah oleh tanda baca dan kata hubung.
Contoh:
Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaos; pisang, apel, dan jeruk.
Agenda rapat ini meliputi pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara; penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja; pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.

4. akhir perincian yang berupa klausa.
Contoh:
Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah (1) berkewarganegaraan Indonesia; (2) berijazah sarjana S-1; (3) berbadan sehat; dan (4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tanda Titik Dua

Titik dua dapat dipakai sebagai berikut:
1. Penggunaan tanda baca titik dua digunakan setelah ungkapan atau kata yang memerlukan pemerian.
Contohnya:
Ketua : Akmal Bahtiar
Sekretaris : Nurul Hikmah Astuti
Bendahara : Astriani

2. Tanda titik dua bisa digunakan pada teks drama setelah kata yang menunjukkan pelaku pada percakapan.
Contoh:
Vivi : (sambil meletakkan beberapa potong kue), “Bawa ini ke kampus, Gi!”
Gina : “Sip, Vi.” (mengangkat kardus yang berisi kue lalu berangkat)
Arni : “Ingat ya, letakkan dengan hati-hati!” (duduk di kursi sambil memperbaiki make up)

3. Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) bab dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Contoh:
Horison, XLIII, No. 8/2008: 8
Surah Yasin: 9
Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi Cerpen Nusantara Pedoman Umum Pembentukan Istilah Edisi Ketiga. Jakarta: Pusat Bahasa

4. untuk menandakan nisbah atau angka banding atau perbandingan. Perbandingan adalah istilah matematika untuk membandingkan dua objek atau lebih menggunakan angka, biasanya berhubungan dengan jumlah dalam matematika.  
Contoh :  
a. Perbandingan antara jumlah murid laki-laki dan perempuan di kelas ini adalah 1 : 3.
b. Selisih uang Andi dan Tono Rp. 16.00,00. Perbandingan uang Andi dan Tono 5 : 3.

Tanda Hubung

Penerapan tanda hubung adalah sebagai berikut:
1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh pergantian baris.
Contoh:
a. Di samping cara lama diterapkan juga ca-
ra baru ….
b. Sebagaimana kata peribahasa, takada ga-
ding yang tak retak.

2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata yang mengikutinya atau akhiran dengan bagian kata yang mendahuluinya pada pergantian baris.
Contoh:
a. Kini ada cara yang baru untuk meng-
ukur panas.
b. Kukuran baru ini memudahkan kita me-
ngukur kelapa.

3. Tanda hubung digunakan untuk menyambung unsur-unsur kata ulang.
Contoh:
a. anak-anak
b. berulang-ulang

4.Tanda hubung digunakan untuk menyambung bagian-bagian tanggal dan huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
Contoh:
a. 22-12-2015
b. p-a-n-i-t-i-a

5. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (a) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan dan (b) penghilangan bagian frasa atau kelompok kata.
Contoh:
a. ber-evolusi
b. Karyawan boleh mengajak anak-istri ke acara pertemuan besok.

6. Tanda hubung dipakai untuk merangkai:
a. se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,
b. ke- dengan angka,
c. angka dengan -an,
d. kata atau imbuhan dengan singkatan berhuruf kapital,
e. kata ganti yang berbentuk imbuhan, dan
f. gabungan kata yang merupakan kesatuan.
Contoh:
a. se-Indonesia peringkat ke-2 tahun 1950-an hari-H
b. sinar-X
c. mem-PHK-kan
d. ciptaan-Nya
e. atas rahmat-Mu
f. Bandara Sukarno-Hatta

7. Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Contoh:
a. di-smash
b. di-mark-up

Tanda Pisah

1. Tanda pisah dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun utama kalimat.
Contoh:
a. Kemerdekaan itu—hak segala bangsa—harus dipertahankan.
b. Keberhasilan itu─saya yakin─dapat dicapai kalau kita mau berusaha keras.

2. Tanda pisah dipakai untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Contoh:
a. Rangkaian temuan ini─evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom─telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
b. Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia─amanat Sumpah Pemuda─harus terus ditingkatkan.

3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat dengan arti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.
Contoh:
a. Tahun 1928─2008
b. Tanggal 5─10 April 2008

Tanda Petik

tanda petik dapat digunakan sebagai berikut:
1.  Petikan langsung dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
Contoh:
a. “Ayah tidak mengijikanku pergi,” kata Iriana.
b. Kepala desa berkata, “Semua warga harus gotong royong membangun kembali jembatan yang roboh akibat kelebihan muatan.”

2. Judul karangan, bab buku, atau syair yang dipakai dalam kalimat.
Contoh:
a. Sebaiknya kalian membaca dengan seksama “Penggunaan Tanda Baca” dalam buku ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan.
b. Makalah “Indonesia Merdeka” mampu membangkitkan rasa nasionalisme dan patriotisme para hadirin.

3. Istilah ilmiah yang mempunyai arti khusus atau kurang dikenal oleh masyarakat umumnya.
Contoh:
a. Penelitian itu dilakukan dengan “trial and error” berulang kali.
b. Beberapa partai politik membentuk “aliansi” untuk memperkuat posisi di pemerintahan.

Dalam penulisannya tanda petik memiliki kaidah tertentu yang harus diikuti, hal berupa tata penulisan, yakni:
1. Tanda petik penutup diletakkan di belakang tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Contoh:
a. “Cepat lari keluar rumah!”, teriak Rahmat. (tanda petik penutup diletakkan di belakang tanda seru)
b. Ayah bertanya, “Kenapa semua orang di dalam rumah ini tidak bergerak cepat untuk menangani masalah ini?” (tanda petik penutup diletakkan di belakang tanda tanya)
c. Ani berkata,”Jangan kau pedulikan omongan orang di sekitarmu.” (tanda petik penutup diletakkan di belakang tanda titik)

2. Tanda baca penutup kalimat ditempatkan di belakang tanda petik pada ujung/bagian kalimat. Tanda petik dalam kalimat ini mengapit kata yang mempunyai arti khusus.
Contoh:
a. Atas kecerdasannya, Andi sering dijuluki “Si Cabe Rawit”.
(tanda baca titik merupakan tanda baca penutup kalimat sehingga diletakkan di belakang tanda petik)
b. Rianty selalu dipanggil sebagai “bule desa”; entah apa makna yang tersirat di dalamnya.

3. Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup (dalam satu pasangan) ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

4. Tanda petik dapat digunakan untuk pengganti keterangan idem (sama dengan di atas) dalam bentuk daftar.
Contoh:
a. abjad bukan abjat
b. antre   “ antri
c. bus “ bis

Tanda Petik Tunggal

Tanda petik tunggal digunakan untuk:
1. Mengapit petikan yang terdapat di dalam petikan lain
Contoh:
a. Bagus berkata,”Semua orang berteriak ‘Tolong..tolong..’, tapi semua sibuk mengurus keselamatan diri mereka sendiri”.
b. “Ustadz menjelaskan bahwa ‘sholat adalah hal yang pertama kali akan dihisab di akhirat kelak‘,” ujar Randy.

2. Makna suatu kata atau ungkapan
Contoh
a. Mawar selalu memimpikan menjadi ‘anak emas’ seperti kakaknya. (anak emas bermakna anak kesayangan)
b. Setiap orang di pasar tekstil ‘hilir mudik’ mencari barang yang cocok dan murah. (hilir mudik bermakna bolak balik)

3.Mengapit makna atau terjemahan dari kata atau ungkapan yang merupakan bahasa asing atau bahasa daerah
Contoh:
a. Rashmita memimpikan novelnya bisa menjadi best-seller ‘sangat laris’.
b. Sekarang banyak PAUD yang sudah mengedepankan character building ‘pembinaan watak’ pada semua muridnya.

Tanda Elipsis

Simbol tanda elipsis adalah tiga tanda titik secara berurutan seperti … .Tanda baca elipsis berfungsi:

1.untuk menandakan kalimat yang terputus-putus,
Contoh:
a. Hmm … sebenarnya aku sudah memberikan buku itu padanya kemarin malam.
b. Sudahlah … toh kita tidak merugi!

2. menghilangkan sebuah kata dalam kalimat, 
Contoh
a. Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.
b. Pengetahuan dan pengalaman kita … masih sangat terbatas.

3. memberikan jeda atau jarak dalam sebuah pembicaraan.
Contoh
a. Entahlah … aku tak bisa memberitahumu.
b. Baiklah … kita akan berunding lagi besok siang.

Tanda Tanya

tanda tanya (?) hanya memiliki satu kegunaan, yaitu makna interogatif. Fungsinya untuk mengungkapkan bahwa si pembicara atau si penulis sedang menanyakan sesuatu dan membutuhkan jawaban. Umumnya, tanda tanya disematkan dalam kalimat yang juga mengandung kata tanya (di mana, apa, bagaimana, kapan, mengapa, siapa, yang mana, berapa, dst.) dan/atau elemen tanya (kah, misalnya). Tanda tanya juga akan mengubah kalimat pernyataan menjadi pertanyaan jika dibubuhkan di akhir kalimat.
Perhatikan contoh-contoh berikut:
a. Siapakah nama adik Anda?
b. Bagaimana rasa sup ayamnya?

Tanda Seru

Tanda seru memiliki simbol (!). Tanda seru memiliki fungsi utama untuk menunjukkan perintah. Selain itu, bisa juga untuk mengungkapkan ekspresi kesungguhan, ketidakpercayaan,  nada tinggi, kebahagiaan, atau emosi yang sangat kuat. Tanda seru penting untuk membuat sebuah teks memiliki muatan emosi dan bisa menyeret pembaca nya untuk merasakan intonasi dari informasi yang sedang disampaikan.
Beberapa contoh penggunaannya dapat dilihat pada kalimat berikut:
a. Jangan seenaknya buang sampah di depan rumah!
b. Subhanallah! Sumurnya dalam sekali, ya ….

Tanda Kurung

1.Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Contoh:
a. Anak itu tidak memiliki KTP (kartu tanda penduduk).
b. Dia tidak membawa SIM (surat izin mengemudi)

2. Dalam penulisan didahulukan bentuk lengkap setelah itu bentuk singkatnya.
Contoh:
a. Saya sedang mengurus perpanjangan kartu tanda penduduk (KTP). KTP itu merupakan tanda pengenal dalam berbagai keperluan.

3. Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.
Contoh:
a. Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
b. Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru pasar dalam negeri.

4. Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Contoh:
a. Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).
b. Pejalan kaki itu berasal dari (Kota) Surabaya.

5. Tanda kurung dipakai untuk mengapit angka atau huruf yang memerinci urutan keterangan.
Contoh:
a. Faktor produksi menyangkut masalah (a) bahan baku, (b) biaya produksi, dan (c) tenaga kerja.
b. Dia harus melengkapi berkas lamarannya dengan melampirkan (1) akta kelahiran, (2) ijazah terakhir, dan (3) surat keterangan kesehatan.

6. Tanda kurung tunggal dapat dipakai untuk mengiringi angka atau huruf yang menyatakan perincian yang disusun ke bawah.
Contoh:
a. Kemarin kakak saya membeli
1) buku,
2) pensil, dan
3) tas sekolah.
b. Dia senang dengan mata pelajaran
a) fisika,
b) biologi, dan
c) kimia.

Tanda Kurung Siku

1. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.
Contoh:
a. Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
b. Ia memberikan uang [kepada] anaknya.

2. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
Contoh:
a. Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35─38]) perlu dibentangkan di sini.

Tanda Ulang

1. Ditulis dengan menambahkan angka 2 atau 2 (pangkat 2) di akhir kata yang seharusnya diulang, menandakan kata tersebut diulang dua kali. Tanda penyingkatan ini tidak resmi. Kata yang berulang harus ditulis penuh.
Contoh:
a. Buku-buku (bukan “buku2”)
b. Saudara-saudara (bukan “saudara2“)

2. tanda ulang singkatan  hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.
Contoh:
• anak2 tidak berangkat ke sekolah bersama2

Tanda Garis Miring

A. Tanda garis miring dipakai di dalam :
1. Nomor surat
Dalam membuat sebuah surat, nomor surat merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam surat resmi. Karena itu menandakan bahwa surat resmi tersebut telah dibuat sesuai urutan yang tertera dari surat-surat sebelumnnya. Nomor surat juga menandakan kelengkapan bagian surat. Nomor surat terdiri dari :
a. Nomor urut surat
b. Nomor Pokok surat resmi lembaga
c. Nama lembaga
d. Bulan pembuatan surat tersebut
e. Tahun pembuatan surat tersebut
Contoh :
No. 7/PK/1973
No. 12/TK-AN/2007/IX/2015
No. 06/KKG/Gugus III PPT/11/2016
No. 01/II/SM/2015
Nomor : 48/C/TK.ABA/X/2016
NOMOR : 16/KUD-GD/BH/II/VII/2013
Nomor : 421.2/17/416-101.5.24/2013
No. : 03/A.Org/P.Cam/IGTKI-PGRI/ III/2014
No. 53/PR/2009
No. 1165/KT/HRD-NJM/II/1999

2. Nomor pada alamat
Dalam mencantumkan alamat, terdapat nomor pada alamat yang akan dituju. Guna dari nomor pada alamat adalah supaya mengetahui alamat tersebut akan ditujukan dimana dan sebagai penjelas agar tidak tersesat atau tertukar saat mengirimkan.
Contoh :
Jalan Kramat III/10
Jalan KH. Wahab Chasbulloh III/64
Jl. Pendidikan X/18 Gedeg
Jl. Melati I/20 Pagerluyung – Gempol
Jalan Anggrek XI/10
Jalan Songgolangit Utara I/ 12 Jakarta Utara
Kotak Pos No. 111/ JKT Malang
Pemasangan Iklan VII/ 232563 Batu – Malang

3. Penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim (tahun ajaran)
Penggunaan tanda garis miring sesuai EYD kali ini adalah untuk menandakan masa dalam satu tahun ajaran. Penggunaan tanda garis miring ini dibuat untuk mengetahui kapan (tahun) dibuatnya sebuah proposal, makalah atau sejenisnya.
contoh :
Tahun anggaran 1985/1986
Tahun ajaran 2015/2016

B. Tanda garis miring digunakan dalam beberapa sebagai pengganti kata atau, tiap dan per.
1. Penggunaan tanda garis miring “atau”
Contoh :
dikirimkan lewat darat/laut (dibaca : dikirimkan lewat darat atau laut)
Mahasiswa/mahasiswi Universitas Indonesia (dibaca : mahasiswa atau mahasiswi di sebuah Universitas Indonesia)
Orang tua/wali murid TK Sacharina Nganjuk (dibaca : orang tua atau wali murid TK Scharina nganjuk)
Mengangkat/menjinjing (dibaca : mengangkat atau menjinjing)

2. Penggunaan tanda garis miring “tiap”
Contoh :
Harganya Rp1.500,00/lembar (dibaca : harganya Rp1.500,00 tiap lembar)
Harga rambutan itu Rp3.500,00/ikat. (dibaca : Harga rambutan itu Rp3.500,00 tiap ikat.)

3. Penggunaan tanda garis miring “per”
Contoh :
Kecepatan 20 m/s ( dibaca : kecepatannya 20 meter per detik )
Modem itu memiliki kecepatan sampai 7,2 Mb / s. ( dibaca : kecepatannya Modem itu memiliki kecepatan sampai 7,2 megabytes per detik)

Penggunaan tanda garis miring ini merupakan salah satu tanda baca yang umum bisa dijumpai dalam surat – menyurat, terutama surat resmi, dalam membuat laporan, dalam pengiriman barang, dalam nota dan sebagainya.

Tanda Penyingkat/Apostrof

Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Contoh:
• Pesawat selanjutnya ‘kan tiba setengah jam kemudian.  (‘kan = akan)
• 24 April ’90.  (’90 = 1990)• Malam ‘lah larut.  (‘lah = telah)

Care mengutip artikel ini (APA style)

Hidayat, A. (2021, Juli 3) Pemakaian Tanda Baca Bahasa Indonesia [webpage]. Retrieved from https://mitrapalupi.com/pemakaian-tanda-baca-bahasa-indonesia/

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

As you found this post useful...

Follow us on social media!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Leave a Reply