Korelasi Seni dan Filsafat

You are currently viewing Korelasi Seni dan Filsafat
0
(0)

Ditulis oleh Nur Amalia Zulfa Amry, Pendidikan Bahasa Arab Universitas Djuanda

Integritas Manusia, Filsafat, dan Seni

Manusia tidak dapat dipisahkan dari cara hidupnya (budayanya), karena budaya itu sendiri adalah ekspresi eksistensi manusia. Ekspresi manusia dalam cara hidupnya beragam. Keragaman ekspresi ini menggambarkan bahwa manusia adalah makhluk yang sadar (Dalam kesadaran ada komponen: kebenaran, keindahan, dan kebaikan). Seni juga termasuk salah satu wujud ekspresi eksistensi manusia. Ekspresi seni dengan ungkapan emosional maupun perasaan (fenomenal) jelas berbeda. Ekspresi seni bukanlah ekspresi diri, karena ekspresi seni adalah sebuah nilai keindahan dan dapat memperhalus sifat komunikasi menjadi suatu harmoni rasa. Di sini dijabarkan bahwa ekspresi seni menengahi pengalaman subjektif seniman dengan orang lain. Seni dapat menjadi alat pendidikan seperti konsepsi dari Plato (427-347 SM). Tetapi nilai seni tidak langsung, karena bersifat simbol(Sunarto, 2014).

Pada hakekatnya manusia adalah seorang filsuf. seperti yang dikatakan Aristoteles, manusia harus berfilsafat. Penegasan ini menunjukan dua hal prinsip dalam kehidupan manusia. Pertama, adanya penegasan mengenai kapasitas manusia untuk berfilsafat. Filsafat merupakan ciri khas manusia. Kedua, semua masalah dapat difilsafatkan. Filsafat dengan metodenya yang khusus, dapat digunakan sebagai pisau menganalisis pengalaman. Dengan demikian, adalah sah bahwa kita mempertanyakan masalah keindahan seni pada umumnya ataupun musik khususnya dari segi filsafat (Susanti, 2000).

Dari uraian di atas kita bisa pelajari bahwa manusia tidak bisa luput dari seni dan filsafat, karena sudah menjadi unsur dari manusia itu sendiri, oleh karena itu kedua hal ini akan saling berhubungan dan mengisi satu sama lain.

Seni 

Seni merupakan hasil karya manusia atau hasil ungkapan jiwa manusia, tetapi tidak semua hasil ciptaan manusia bisa disebut sebagai karya seni atau dikategorikan sebagai seni karena memang tidak semua hasil karya manusia dimaksudkan sebagai karya seni. Menurut Dickie, sebuah karya ciptaan manusia mendapat predikat sebagai karya seni jika dengan sengaja dibuat untuk dinikmati atau diapresiasi oleh masyarakat. Beberapa orang juga berpendapat bahwa karya seni adalah manifestasi manusia yang karena kualitasnya dapat menimbulkan pengalaman estetik bagi para pengamatnya. Menurut Dickie karya seni adalah sebuah karya ciptaan manusia yang disajikan kepada sekelompok orang yang telah siap dalam batas tertentu untuk memahami karya tersebut. Seseorang akan bisa memahami sebuah karya seni jika orang tersebut memiliki dan menggunakan pranata yang sama dengan pranata pencipta karya seni tersebut (Rondhi, 2017).

Terdapat dua macam fungsi seni untuk individu yaitu pertama, Fungsi pemenuhan kebutuhan fisik. Pada umumnya manusia adalah makhluk homofaber yang memiliki kecakapan untuk apresiasi pada keindahan dan pemakaian benda-benda. Seni terapan mengacu kepada pemuasan kebutuhan fisik sehingga segi kenyamanan menjadi suatu hal penting. Kedua, fungsi pemenuhan kebutuhan emosional seorang mempunyai sifat yang beragam dengan manusia lain. Sebagai instrumen ekspresi pribadi, tidak dibatasi untuk dirinya sendiri. Maksudnya, Secara eksklusif tidak dikerjakan berdasarkan emosi pribadi, melainkan bertolak pada pandangan personal menuju persoalan-persoalan umum dimana seniman itu hidup, yang nantinya akan diterjemahkan seniman lewat lambang simbol yang terjadi pola umum pula (SAPUTRI, 2021)

Filsafat 

Filsafat yaitu kemampuan berfikir manusia menurut logika, secara bebas dan tidak terikat dengan tradisi atau aturan-aturan tertentu, serta agama dan mampu berfikir secara radikal, sistematis, berfikir jauh serta sedalam-dalamnya sehingga sampai kepada dasar-dasar permasalahan (radikal) (Subekti, 2003). Dalam sejarah filsafat Yunani dikatakan bahwa orang pertama kali berfilsafat pada masa Yuanani Kuno yaitu Thales. Awal mula lahirnya filsafat disebabkan karna sudah jenuh dengan pendapat yang mengundang nilai mitos, sehingga pergi jauh dari pemikiran mitos menuju ke pemikiran rasional (Nasri, 2009). 

Latar belakang sejarah filsafat pada masa Yunani kuno dimulai dengan munculnya berbagai pemikiran yang mendalam, realitas atau alam sebagai tempat berpijak manusia ini. Keakraban dengan pemikiran ini dilakukan dengan pertimbangan oleh individu-individu yang dianggap cerdik, refleksi akhirnya rinci dalam saran yang tepat dan cerdas. Dari sinilah latar belakang sejarah teori mulai muncul, lebih spesifiknya dengan perkembangan pemikir utama bernama Thales.

Munculnya filsafat diawali oleh sikap kritis terhadap tradisi mitologi yaitu segala sesuatu yang terjadi dijagat raya ini disikapi dengan mitos. Berangkat dari mitos inilah kemudian berpindah pada pemikiran kritis yang tidak berhenti pada cerita-cerita dan dongeng belaka yang silit dibuktikan sebenarnya secara empiris. Sikap kritislah yang menjadi dasar lahirnya filsafat pertama kali, karna filsafat menegajak siapa saja untuk berfikir reflektif (perenungan) terhadap segala sesuatu secara rasional, sistematis, medalam dan komprehenshif. Menarik manusia keluar jauh dari mitos kepada pemikiran-pemikiran dialiktik sesuatu yang ada, untuk diungkap maknanya dan keberadaanya. Beginilah yang dilakukan oleh seorang filsosof yang bernama Thales. Dalam para pakar ilmuan Thales tercantum sebagai bapak filsafat pertama (Noviansah, 2020).

Korelasi filsafat dan Seni

Dalam pembahasannya Susanti (2000) menerangkan Filsafat sebagai salah satu bentuk pemikiran reflekstif membutuhkan pemikiran refleksi. Pemikiran refleksi yang manual dari kesehariannya dijadikan sebagai titik tolak. tidak puas dengan penjelasan-penjelasan dasar yang diberikan oleh intuisi utama, pemikiran berusaha mengkonstruksikan seluruh siklus kerjanya berdasarkan basis pemikiran. Dalam konsep filsafat, Plato mengemukakan teori Mimesis yang melihat dunia materi hanya sebagai bayangan dari dunia nyata yang ada di atas, yaitu alam idea-idea yang bersifat rohani murni. Dengan melalui teori Mimesis tersebut Plato berpendapat bahwa : seorang seniman merupakan penjiplakan kelas dua, karena ia menjimplak dari sebuah jiplakan. Atau sebaliknya karya seni adalah peniruan dari barang tiruan (mimesis dari mimesis). Bagi Plato, musik merupakan hasil karya seni yang baik. Musik memiliki kedudukan yang mutlak dalam pemerintahan, karena dapat berdampak pada bidang moral dan politik. Meskipun demikian, seniman tidak mendapat tempat di hati Plato, sebab kedudukan seniman dipandang lebih rendah dibanding dengan posisi seorang negarawan. Negarawan mampu mempertimbangkan, menganalisa, serta mengarahkan masyarakat berdasarkan idea-idea kebaikan, keadilan, keberanian, maupun ide keindahan. Sedangkan seniman hanyalah menirukan keindahan yang ada di dunia ini. Dalam beberapa hal, Aristoteles memiliki perbedaan dengan gurunya yaitu Plato. Akan tetapi, filsafat Aristoteles merupakan penyusunan sistematis terhadap persepsi Plato. Menurut beliau, seni memang imitasi dari alam, namun sebenarnya dari luar alam. Imitasi dari seni membawa kebaikan. Karakter seni sudah menjadi tugas filsafat untuk mencapai keharmonisan yang sempurna.

Dalam persepsi tentang seni, terdapat pandangan yang bertentangan antara Plato dan Aristoteles. Menurut Aristoteles, seorang seniman harus berfikir secara logis dan psikologis. Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa seorang seniman tidak dapat memasukkan hal-hal bersifat mustahil atau bahkan irrasional. Kemustahilan yang masuk akal bisa lebih baik dari pada hal-hal yang mungkin tidak masuk akal. Thomas Aquinas menggarap semua sumber inspirasi menjadi satu kesatuan yang bebar-benar patut dikagumi dengan pendekatan tradisi filosofis dan teologis. Pokok-pokok pikiran filsafat dari Thomas Aquinas yang patut dicatat adalah : penciptaan, pengenalan akan Tuhan, Hilemorfeisme (materi dan bentuk), dan manusia. Memperoleh pokok-pokok pemikiran dari Thomas Aquinas ini, tampaknya pencitaan karya seni dapat dilakukan dengan tema-tema pokok yang religius, sesuai nafas Abad Pertengahan.

Keindahan yang murni inderawi merupakan suatu hal yang janggal bagi manusia. Manusia dalam dirinya mempunyai akal budi. yang mana mampu mengatasi hal-hal yang singular yang ditangkap oleh indera. Dalam setiap aktivitas manusia, termasuk kegiatan inderawi, akal budi tetaplah berperan. Demikian pula dalam menghayati filsafat keindahan, indera dan akal budi berperan secara bersamaan. Alexander Gottlieb Baumgarten (1714-1762) mengemukakan bahwa istilah “estetika”, yang dimaksudkan adalah “filsafat seni,” menurut beliau, seluruh rangkaian pengalaman (empiris) memiliki susunan atau struktur yang terperinci serta bersatu dalam seni. Hal senada inilah yang dianalisis Kant dalam filsafat seninya gaya pendekatan empiris ini juga dalam pembahasan tentang keindahan dan karya seni selama jaman modern. Karya Langer yang terkenal, yaitu Philosophy in a New Key (1942). Dalam buku ini terkemukakan teorinya yang ia beri nama dengan “teori simbol”, oleh sebab itu ia mendefinisikan seni senagai kreasi bentuk-bentuk simbolis dari perasaan manusia. Seni merupakan universalisasi dari pengalaman sebagai bentuk simbolis.

Seorang seniman dalam mencipta karya seninya tentu diawali dengan perenungan hasil simbolisasi ekspresif. Dalam Problem of Art (1957), Langer menyatakan bahwa prinsip pembentukan seni dengan membandingkannya dengan prinsip pembentukan simbol pada ilmu pengetahuan. Pembentukan simbol adalah abstrak dan tidak melalui generalisasi yang berangsur-angsur. Abstraksi pada seni merupakan abstraksi yang agregat dan menyeluruh, karena seni bersifat kreatif dan bukannya konstruktif (penyusunan). Langer menegaskan bahwa seni adalah kreasi bentuk-bentuk simbolis dari perasaan manusia. Sebagai suatu bentuk simbolis, seni sudah mengalami transformasi, yang merupakan universalisasi dari pengalaman. Simbol merupakan tindakan esensial dari “mind”. Suatu karya seni, seniman tidak saja menterjemahkan pengalamant ertentu dalam karya seni, seniman tidak saja menterjemahkan pengalaman tertentu dalam karyas neinya. DI sini ktia dapat mempertanyakan, mengapa demikian? Sebab, jika seni merupakan terjemahan pengalaman si seniman, seni lantas merupakan isi pengalaman sendiri yang langsung diungkapkan dari apa yang dialami. Dengan form of simbolic dimaksudkan bahwa seniman dalam membuat karya seni sudah perlu merenungkan dan merasakan pengalaman langsung, dan mentransfer menjadi pengalaman universal (umum) yang mampu dicerna oleh orang lain.

PENUTUP

Ekspedisi dengan pemikiran serta karya-karya para filsuf, ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan ketika terlontar pertanyaan “Apa relevansi filsafat dan seni? dan ketika diasah lagi ke pertanyaan yang mengarah pada: “Apa hubungan antara filsafat dengan kehidupan seniman? Sementara kita mendengar percakapan atau dialog-dialog, pertukaran pikiran yang mengasah dan mempertanyakan eksistensi filsafat di sebuah perguruan tinggi, kenyataan ini belum dapat membuka tabir ketidaktahuan, bahkan ketakacuhan masyarakat seni, tentang sebenarnya untuk apa kita peduli akan filsafat.

Seni itu merupakan proses cipta, rasa, dan karsa. Sama halnya seperti sains dan teknologi. Seni tidak akan pernah ada jika manusia tidak dikaruniai daya cipta atau imajinasi. Adapula yang membedakan proses cipta antara seni dengan sains dan teknologi adalah bahwa kreatifitas seni sangat dipengaruhi oleh rasa (feeling emotion) sedemikian hebatnya, sehingga rasio yang hakikatnya hadir pada setiap manusia, kadang kurang mendapatkan tempat bagi seniman. Namun, bukan berarti bahwa seniman tidak pernah bekerja secara rasional.

Filsafat dan seni merupakan komunikasi yang kreatif, tetapi cara dan tujuannya berbeda. Filsafat yaitu usaha mencari kebenaran sedangkan seni lebih kepada kreasi dan menikmati nilai. Bahkan jika seni menggunakan bahasa seperti dalam sastra, penggunaan ini bukanlah sesuatu yang sama dalam filsafat. Tujuan dari seni itu kan membangkitkan emosi estetik, sedangkan dalam filsafat, bahasa itu merupakan alat untuk mengucapkan kebenaran.

Melihat pada premis-premis seperti telah diungkapkan, dapat kita simpulkan, kehadiran filsafat seni merupakan sesuatu yang sah; pemikiran-pemikiran kefilsafatan tentang seni merupakan tandingan dan sekaligus agar seni tidak berkembang secara naif.

SARAN

Adapun saran dalam essay ini adalah mempelajari mengenai filsafat dan seni merupakan hal yang seru tetapi jangan mengganggap mudah, perlu adanya metode dalam pencarain sumber yang lebih dalam lagi untuk memperjelas mengenai korelasi kedua unsur ini, salah satu nya pemanfaatan buku buku menganai filsuf filsuf terutama yang condong pada pemikiran mereka mengenai seni.

Referensi

Nasri, U. (2009). No TitleBersahabatlah Dengan Ilmu (Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu) (Keenam). CV Al-Haramain.

Noviansah, A. (2020). Pemikiran filsafat menurut Thales (Analisis Kritis Dalam Perspektif Filsafat dan Agama). Zawiyah: Jurnal Pemikiran Islam, 6(2), 228–249.

Rondhi, M. (2017). Apresiasi Seni dalam Konteks Pendidikan Seni. Imajinasi: Jurnal Seni, 11(1), 9–18.

SAPUTRI, S. (2021). FILSAFAT SENI DAN ESTETIKA MENURUT HAZRAT INAYAT KHAN. IAIN Bengkulu.

Subekti, S. (2003). Sejarah Filsafat: Dari Yunani Kuno Sampai Abad 17. BP Universitas Diponegoro.

Sunarto. (2014). FILSAFAT SENI NUSANTARA. Seni Dan Pendidikan Seni, April, 1–6. https://doi.org/https://doi.org/10.21831/imaji.v14i1.9537Susanti, S. (2000). Filsafat Seni: Antara Pertanyaan dan Tantangan (Philosophy of Art: Between Question and Challenge). Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 1(2).

Cara Mengutip Artikel ini

Azmy, N.A.Z. (2021, Juli 17) Korelasi Seni dan Filsafat. Retrieved from https://mitrapalupi.com/korelasi-seni-dan-filsafat

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

As you found this post useful...

Follow us on social media!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Leave a Reply