Inovasi Tempe Hybrid sebagai Alternatif Pangan Fungsional Pencegah Stunting

Suci Nur Intan,Sekolah Tinggi Teknologi Bandung
0
(0)

Dalam beberapa tahun terakhir ini, istilah stunting sangat sering terdengar. Suatu istilah yang ramai dibicarakan baik oleh media ataupun dari obrolan orang tua. Lantas, apa itu stunting? Stunting adalah suatu kondisi gagal tumbuh pada anak balita sebagai akibat dari kekurangan gizi sehingga tubuh anak terlalu pendek untuk seusianya. Dalam kasus ini, anak
tidak hanya mengalami hambatan pertumbuhan fisik, tetapi juga mengalami penurunan imunitas tubuh hingga menghambat perkembangan otak.

Kondisi stunting pada anak tentu bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Justru sebaliknya, permasalahan stunting harus menjadi perhatian bersama dan perlu diwaspadai. Hal ini semakin dipertegas oleh hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan yang menunjukkan bahwa angka prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4%, di atas batasan yang ditetapkan WHO, yaitu sebesar 20%. Kondisi ini menjadi peringatan tersendiri bagi semua pihak untuk mulai memahami mengenai apa penyebab stunting, bagaimana cara mencegahnya, dan upaya apa yang dapat mengatasi kasus stunting di Indonesia.

Namun, sebelum kita membicarakan lebih jauh tentang upaya pencegahan stunting, ada baiknya kita juga mengetahui tentang apa penyebab Stunting. Jadi, Stunting itu sebenarnya disebabkan oleh banyak faktor. Faktor tersebut, diantaranya karena anak kekurangan asupan gizi, kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum pada masa kehamilan dan sesudah melahirkan, terbatasnya layanan kesehatan, kurangnya akses rumah tangga / keluarga pada makanan bergizi, dan kurangnya kualitas air serta sanitasi. Dari penyebab-penyebab tersebut, maka diperlukan upaya untuk mengurangi prevalensi stunting di Indonesia, salah satunya dengan melibatkan peran mahasiswa.

Pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana peran mahasiswa dalam mengurangi angka stunting di Indonesia? Untuk menjawabnya, mari kita bahas terlebih dahulu mengenai peran mahasiswa yang mengacu pada Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tri Dharma perguruan tinggi terdiri dari Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan dan
pengajaran merupakan suatu usaha dalam pembentukan pribadi agar sesuai dengan pedoman yang berlaku dan mengadakan proses pembelajaran agar mahasiswa dapat mengembangkan potensi dirinya.

Lalu, penelitian dan pengembangan dilakukan untuk mencapai tujuan Perguruan Tinggi, yaitu memiliki Sumber Daya Manusia yang kreatif, cerdas, dan kritis sehingga dapat berkontribusi bagi bangsa agar terus maju dan berkembang. Selanjutnya, poin terakhir adalah pengabdian kepada masyarakat, yakni dengan terjun langsung ke lapangan untuk membantu masyarakat dalam berbagai aktivitas.

Dari ketiga poin tersebut, maka semakin diperjelas bahwa melalui pendidikan yang dilakukan perguruan tinggi, diharapkan mahasiswa dapat melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan agar selanjutnya dapat berkontribusi bagi bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, di sinilah mahasiswa dapat mengambil peran dalam membantu menurunkan angka stunting di Indonesia untuk mewujudkan generasi penerus bangsa yang unggul dengan cara menciptakan inovasi, gagasan, ataupun menjadi bagian dari program menurunkan angka stunting di Indonesia.

Melalui penjelasan tersebut, kita dapat mengetahui bahwa peran mahasiswa dibutuhkan untuk menciptakan serangkaian inovasi dalam mengatasi Stunting. Oleh sebab itu, melalui tulisan ini, penulis ingin menjelaskan mengenai sebuah gagasan inovasi yang dapat dilakukan melalui metode hybrid untuk mengatasi persoalan stunting. Inovasi tersebut adalah inovasi
Tempe Hybrid sebagai alternatif pangan fungsional pencegah stunting.

Tempe Hybrid adalah inovasi yang dihasilkan dari kolaborasi dua bidang berbeda, yaitu dari mahasiswa teknik industri dan pengrajin tempe. Konsepnya, mahasiswa teknik industri harus mampu mengaplikasikan pengetahuan industrialisasi yang mereka miliki dalam inovasi ini untuk kemudian dikolaborasikan dengan pengrajin tempe yang berkontribusi dalam bidang produksi.

Pengetahuan industrialisasi yang mencakup bidang desain, perbaikan, dan pemasangan dari sistem integral yang terdiri dari manusia, bahan-bahan, informasi, peralatan, dan energi sangat dibutuhkan untuk menciptakan usaha yang lebih siap dalam segala tantangan mulai dari tahap awal proses produksi sampai dengan distribusi produk dan tidak lupa menggaet pengrajin tempe untuk menciptakan produk Tempe Hybrid.

Dalam hal ini, tempe yang menjadi bahasan tentu berbeda dengan tempe yang biasa kita konsumsi. Jadi, dalam hal ini penulis memiliki ide tentang bagaimana jika tempe tersebut diinovasi agar memiliki nilai gizi tinggi, kandungan nutrient yang tinggi dan mampu menjadi pangan fungsional pencegah stunting. Setelah dipelajari lebih lanjut, penulis menemukan bahwa selain kacang kedelai, sebenarnya ada juga beberapa jenis kacang yang dapat menjadi alternatif pembuatan tempe.

Berhubung saat ini banyak pengrajin tempe yang mengalami kesulitan karena mahal serta langkanya kacang kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe, beberapa jenis kacang lain dapat menjadi menjadi pilihan yang tepat untuk membuat tempe. Salah satu jenis kacang yang dibahas kali ini adalah kacang tolo. Kacang ini digunakan sebagai bahan pembuatan tempe dan dihybridkan dengan bahan lain, yaitu daun kelor untuk meningkatkan kandungan gizi dan kandungan nutrientnya sehingga ini menjadi alasan kuat mengapa penulis memberi nama inovasi ini sebagai Tempe Hybrid. Karena, selain melibatkan kolaborasi dari dua bidang berbeda, yaitu mahasiswa teknik industri dan pengrajin tempe, inovasi ini juga menghybridkan dua bahan berbeda, yaitu kacang tolo dan daun kelor untuk menjadi suatu produk pangan fungsional pencegah stunting.

Kacang tolo adalah salah satu jenis kacang-kacangan yang umumnya berwarna pucat dengan bintik hitam, cokelat, atau merah menyerupai mata. Meski kacang tolo sedikit asing di telinga, tetapi jangan kaget jika melalui tulisan ini Anda akan menemukan banyak informasi mengenai tingginya kandungan nutrisi dan manfaat dari kacang tolo terutama jika diolah
menjadi tempe. Jadi, dalam 170 gram kacang tolo yang matang terdapat 194 kalori dan beragam nutrisi penting.

Apa saja? Yang pertama adalah 13 gram kandungan protein. Protein adalah zat gizi yang sangat penting untuk pertumbuhan tinggi badan, pembentukkan otot, jaringan kulit, rambut, dan kuku, serta mengganti jaringan tubuh yang rusak. Hal ini juga
diperkuat dengan data komposisi pangan Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Indonesia bahwa sekitar 40% kebutuhan protein tubuh dapat dipenuhi dengan kacang tolo.

Kandungan lainnya adalah 1 gram lemak, 35 gram karbohidrat, 11 gram serat, juga 88% dari kebutuhan harian folat. Folat sangat berguna untuk menciptakan materi genetik sehingga sangat dibutuhkan selama masa pertumbuhan. Kandungan lainnya adalah 50% dari kebutuhan harian tembaga, 28% dari kebutuhan harian tiamin, 23% dari kebutuhan harian zat besi, 21% dari kebutuhan harian fosfor, 21% dari kebutuhan harian magnesium, juga 20% dari kebutuhan harian zinc, 10% dari kebutuhan harian kalium, juga dapat memenuhi hingga hampir setengah kecukupan gizi kalsium orang dewasa sebesar 1.000 mg kalsium per hari.

Kalsium sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang dan tinggi badan anak, karena membatu dalam proses mineralisasi tulang, termasuk pembentukan struktur dan kepadatan tulang. Apabila asupan kalsium tercukupi, penambahan tinggi badan pun akan maksimal dan anak terhindar dari stunting. Selain itu, kacang tolo juga mengandung asam fitat yang lebih tinggi
dari kacang lainnya termasuk jika dibandingkan dengan kacang kedelai. Pada kondisi matang, kandungan asam fitat per 100 gram pada kacang tolo adalah sebesar 1,525 gram, lebih besar jika dibandingkan dengan kacang kedelai yang hanya sebesar
0,945 gram. Asam fitat adalah senyawa yang terkandung dalam biji tanaman dan merupakan zat antinutrisi, tetapi dapat sangat bermanfaat jika dilakukan proses fermentasi untuk mengeluarkan nutrisi di dalam asam fitat tersebut.

Melalui fermentasi, zat gizi di dalam kacang tolo seperti kalsium dan fosfat dapat termuat dalam hasil fermentasi tersebut dengan menggunakan jamur tempe, yaitu Rhizopus Oryzae. Jadi, itulah alasan mengapa penulis merekomendasikan kacang tolo untuk dijadikan tempe karena memang kacang tolo ini kandungan gizi nya sudah sangat tinggi terlebih jika dilakukan fermentasi, maka kandungan gizinya akan lebih tinggi lagi.

Lalu, sebagai upaya untuk lebih meningkatkan kandungan gizi pada tempe, maka selain menggunakan kacang tolo, inovasi ini juga ingin menghybridkan kacang tolo dengan daun kelor agar dapat dihasilkan pangan fungsional pencegah stunting. Daun kelor atau memiliki nama lain Moringa Oleifera, termasuk dalam jenis tanaman tropis yang banyak digunakan sebagai obat herbal atau obat tradisional.

Jenis tanaman ini sangat mudah dikenali dari ukuran daunnya yang kecil berwarna hijau dan ranting pohonnya yang tidak terlalu besar. Daun kelor memiliki kandungan gizi yang tinggi sehingga mampu memenuhi kebutuhan gizi serta memberikan tambahan vitamin yang penting bagi tumbuh kembang anak. Daun kelor mengandung protein yang dua kali lebih banyak dari yogurt, kandungan potasium yang tiga kali lebih banyak dari pisang, dan kandungan vitamin A yang empat kali lebih banyak dari wortel sehingga sangat penting untuk dikonsumsi sebagai pangan pencegah stunting. Selain itu, daun kelor juga memiliki kandungan asam fitat yang akan sangat bermanfaat bagi tubuh jika dilakukan pengolahan yang tepat.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, asam fitat dapat dimanfaatkan jika sebelumnya dilakukan fermentasi terlebih dahulu. Memang ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengolah daun kelor. Akan tetapi, melakukan fermentasi pada daun kelor juga bukanlah hal yang buruk. Justru, dengan fermentasi, kandungan gizi dan vitamin yang terdapat pada daun kelor akan meningkat.

Berangkat dari pengetahuan tersebut, akhirnya penulis mencoba memunculkan inovasi Tempe Hybrid, yakni dengan menghybridkan dua bahan berbeda dalam pembuatan tempe, yaitu kacang tolo dan daun kelor agar dapat dihasilkan pangan fungsional pencegah stunting. Selain itu, istilah hybrid juga merujuk pada pihak yang terkait dalam rencana inovasi kali ini. Jadi, dalam praktiknya, Tempe Hybrid ini menjadi kolaborasi yang sangat terintegrasi antara dua bidang berbeda, yaitu bidang industrialisasi dari mahasiswa teknik industri, dan juga bidang pangan dari pengrajin tempe.

Mahasiswa teknik industri merupakan salah satu pihak yang diharapkan dapat berkontribusi dalam inovasi ini. Karena, mahasiswa teknik industri mempunyai bekal pengetahuan serta kemampuan mengenai 4 pilar manajemen usaha. Keempat pilar itu adalah manajemen produksi, manajemen pemasaran dan distribusi, manajemen keuangan, dan manajemen SDM. Dalam inovasi ini, penulis berharap mahasiswa teknik industri dapat mengaplikasikan pengetahuan dan kemampuan tersebut secara langsung dalam dunia industri.

Sebagai contoh, pengetahuan manajemen produksi dapat diaplikasikan dalam pengendalian kualitas bahan dan pengetahuan bahan seperti bagimana cara memilih dan mengolah kacang tolo serta daun kelor agar tetap terjaga nilai gizinya dalam sistem produksi yang efisien. Selain itu, mahasiswa teknik indsutri juga dapat mengaplikasikan kemampuan mereka dalam menganalisa keputusan intensistas produksi, perencanaan lingkungan kerja yang tepat, analisis ergonomi serta perancangan dan perencanaan produk seperti apa yang dapat memenuhi permintaan konsumen terhadap Tempe Hybrid.

Kemudian, untuk pengetahuan manajemen pemasaran dan distribusi, mahasiswa teknik industri dapat mengaplikasikan pengetahuannya terkait bagaimana melakukan pemasaran Tempe Hybrid yang tepat. Sebagai contoh, memperoleh sertifikat makanan bergizi dan label makanan ber-BPOM terlebih dahulu, lalu mempromosikannya lewat poster, media sosial, promosi ke TK, SD, Puskesmas, Rumah Sakit, dan membuat packaging semenarik mungkin agar anak tertarik untuk mengonsumsi produk Tempe Hybrid sekaligus membuat orang tua yakin mengenai kualitas Tempe Hybrid.

Setelah itu, baru mulai memasarkannya baik secara online ataupun menyuplai ke beberapa unit distribusi lainnya. Selanjutnya, membahas mengenai Manajemen Keuangan, mahasiswa teknik industri juga mempelajari mengenai ekonomi teknik dan akuntansi biaya agar mampu mengelola keuangan tidak terkecuali keuangan di usaha industri. Dan yang tidak kalah penting, mahasiswa teknik industri juga dibekali dengan kemampuan manajemen Sumber Daya Manusia yang sangat esensial pada inovasi ini.

Jadi, kemampuan manajemen SDM ini dibutuhkan dalam mewujudkan kolaborasi antara mahasiswa teknik industri dengan pengrajin tempe sebagai pihak yang berkontribusi di bidang produksi. Nantinya, berbagai upaya dalam pengembangan skill serta pengetahuan individu dari pengrajin tempe dapat ditingkatkan melalui serangkaian training agar semua pihak memiliki pengetahuan mengenai bagaimana cara yang seharusnya dilakukan agar dapat menghasilkan tempe berkualitas, memiliki kandungan nutrient yang tinggi, dan dapat dijadikan sebagai pangan fungsional pencegah stunting. Inovasi kali ini juga bukanlah sekadar upaya berwiraswasta saja. Lebih dari itu, ini juga merupakan upaya untuk mewujudkan mahasiswa sociopreneur.

Sociopreneur berasal dari kata social dan entrepreneur, yang artinya seorang pebisnis yang menjalankan kegiatan wirausaha dengan fokus menciptakan dampak sosial bagi masyarakat (Zakawali, 2022). Pada prinsipnya, seorang sociopreneur tidak hanya berfokus pada keuntungan yang dihasilkan dari kegiatan wirausahanya, tetapi berfokus pada bagaimana mereka menyelesaikan permasalahan di masyarakat melalui kegiatan bisnis yang dijalankan. Dalam pembahasan kali ini, masyarakat Indonesia tengah mengalami permasalahan peningkatan angka stunting. Permasalahan ini timbul salah satunya sebagai akibat dari kurangnya akses anak terhadap makanan bergizi.

Oleh sebab itu, melalui inovasi ini, diharapkan bisa memunculkan mahasiswa sociopreneur yang dapat mengatasi permasalahan tersebut melalui inovasi pangan fungsional pencegah stunting dengan berfokus pada produk Tempe Hybrid. Tempe Hybrid ini merupakan solusi yang efisien, terjangkau, dan hemat biaya. Dengan adanya kolaborasi hybrid dari dua bidang berbeda antara mahasiswa teknik industri dan pengrajin tempe, maka solusi ini dapat menjadi solusi yang berkelanjutan. Inovasi ini merupakan harapan bagi mahasiswa untuk membawa perubahan positif dan ikut berkontribusi dalam mengatasi permasalahan stunting di Indonesia.

Terlebih jika dicermati lebih lanjut, inovasi ini juga menghybridkan dua bahan dalam pembuatan tempe, yaitu kacang tolo dan daun kelor. Jika selama ini petani kacang tolo belum mendapatkan tingkat kesejahteraan yang baik karena kurangnya permintaan kacang tolo, maka inovasi ini juga bisa menjadi upaya dalam meningkatkan kesejahteraan petani kacang tolo. Jadi, dengan inovasi ini ada begitu banyak dampak positif yang bisa diperoleh, dampak tersebut berupa penurunan angka stunting, peningkatan tingkat kesehatan, peningkatan taraf kesejahteraan petani kacang tolo, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, penulis berharap melalui inovasi ini mahasiswa teknik inudstri dapat berkontribusi dengan baik bersama pengrajin tempe untuk menyelesaikan permasalahan stunting di Indonesia.

Jadi, melalui pemaparan di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa kasus stunting di Indonesia berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Oleh sebab itu, berbagai pihak harus berkontribusi untuk mengatasi permasalahan stunting di Indonesia, tidak terkecuali mahasiswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan mahasiswa adalah dengan membuat inovasi pangan fungsional pencegah stunting.

Adapun dalam hal ini, penulis merokemendasikan untuk membuat inovasi hybrid yang mengkolaborasikan antara dua bidang berbeda, yaitu pengetahuan industrialisasi dari mahasiswa teknik industri dengan pengetahuan di bidang pangan dari pengrajin tempe untuk menghasilkan produk Tempe Hybrid. Istilah hybrid ini, selain merujuk pada kolaborasi dua bidang berbeda dalam menghasilkan produk, juga merujuk pada bahan pembuatan tempe yang menghybridkan dua bahan berbeda, yaitu kacang tolo dan daun kelor untuk dijadikan tempe kaya gizi dan tinggi nutrient sebagai pangan fungsional pencegah stunting. Inovasi ini merupakan salah satu cara untuk mahasiswa berkontribusi dalam mengatasi stunting juga bertujuan untuk mewujudkan mahasiswa sociopreneur, yaitu mahasiswa pebisnis yang menjalankan kegiatan wirausaha mereka dengan fokus menciptakan perubahan positif bagi masyarakat.

Daftar Pustaka

  1. Almasyhuri dkk. (1990) Kandungan Asam Fitat dan Tanin dalam Kacang-Kacangan yang Dibuat Tempe. PGM, 13:65-72.
  2. panganku.org. (2008). Komposisi Gizi Pangan Kacang Tolo. Diakses pada 26 Juli 2022, dari http://panganku.org/id-ID/view.
  3. stunting.go.id. (2022). Tahun 2022 Angka Prevalensi Stunting Harus Turun Setidaknya 3%. Diakses pada 26 Juli 2022, dari https://stunting.go.id/tahun-2022-angka-prevalensi-stunting-harus-turun-setidaknya-3/#:~:text=Lebih%20lanjut%2C%20Wapres%20memaparkan%20bahwa,30%2C8%25%20pada%202018.
  4. Zakawali, G. (2022). 8 Tips Menjadi Sociopreneur Sukses. Diakses pada 26 Juli 2022, dari https://store.sirclo.com/blog/tips-menjadi-sociopreneur/#:~:text=Sociopreneur%20sendiri%20berasal%20dari%20kata,menciptakan%20dampak%20sosial%20bagi%20masyarakat.

    How useful was this post?

    Click on a star to rate it!

    Average rating 0 / 5. Vote count: 0

    No votes so far! Be the first to rate this post.

    As you found this post useful...

    Follow us on social media!

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?

    tempe-anti-stunting.jpeg