Filsafat Sebagai Seni

You are currently viewing Filsafat Sebagai Seni
5
(1)

Ditulis oleh Azizah, Pendidikan Bahasa Arab Universitas Djuanda

Kefilsafatan Manusia

Pada hakekatnya manusia adalah seorang filsuf.(1) Dengan kata lain seperti yang dikatakan Aristoteles, manusia harus berfilsafat (Hommer and Hunt, 1982: 4). Pernyataan ini menunjukkan dua hal pokok dalam hidup manusia. Pertama, adanya pengakuan mengenai kemampuan manusia untuk berfilsafat. Filsafat merupakan ciri khas manusia. Kedua, semua masalah dapat difilsafatkan.

Filsafat dengan metodenya yang khusus, dapat dipakai sebagai pisau menganalisis pengalaman. Dengan demikian, adalah sah bahwa kita mempertanyakan masalah keindahan seni pada umumnya ataupun musik khususnya dari segi filsafat. Filsuf adalah seorang yang saja puas selalu resah, karena ia tidak menerima begitu saja hal-hal yang berlangsung disekitarnya. Ia mengamatinya, ia tidak begitu saja puas dengan mengamati fenomena-fenomena yang tampak pada panca inderanya, tetapi ia terdorong oleh kehausan akan pengetahuan untuk menyelidiki fenomena-fenomena tersebut.

Dalam arti tertentu, bagi orang filsuf atau ahli filsafat, berfilsafat merupakan sebuah panggilan. Hal ini pernah ditekankan oleh Socrates yang hidup lebih dari dua ribu tahun yang lalu (ia terkenal sebagai “Bapak Filsafat Seni/Keindahan”). Ia mengatakan “Hidup yang tidak digugat, tidak layak dihayati” (Hommer, 1982: 1). Para filsuf dengan metode filosofis menggugat kehidupan. Panggilan filosofis itu dalam konteks filsafat seni, menuntut kerelaan, keterbukaan, dan tidak pernah prasangka apriori. Artinya, persoalan seni (musik) dapat dibahas dari sudut disiplin ilmu manapun. Bukankah musik bukan barang beku? Musik sebagai karya seni harus dilihat sebagai kultur manusia. Bila dicari sebang merah menginduk yaitu hasil budaya, tentunya tak ada kebudayaan yang dibayangkan tanpa bentuk estetis.

Eksistensi Seni dalam Filsafat

Ketika kita berbicara tentang istilah estetika yang dimaksudkan sebagai filsafat seni ini merupakan hal yang antik dan unik, seantik sejarah pemikiran manusia, dan seunik persoalan yang dikandungnya. Menurut eksistensi seni dari sudut filsafat, kita dapat berguru kepada beberapa filsuf. Kesabaran dan bekerjasama dengan ilmu-ilmu lain, merupakan model guna mencapai pemahaman filsafati. tidak jarang beberapa pendapat dari para filsuf tentang seni saling kontradiktif. Hal demikian sering membingungkan. Mana tandingan pemikiran filsafati dan mana tandingannya, sehingga dapat melahirkan interpretasi baru dalam bentuk pemikiran yang reflektif, muncul perlahan-lahan. Seperti dikatakan Hegel, “Baru pada larut malam ruang dibubuhi Minerva mencari udara”. Filsafat seperti kita lihat pada jaman Yunani, pada Abad Pertengahan pada abad Modern dan Kontemporer, selalu bersifat kontekstual.

Plato (428 – 348 SM) membagi dunia menjadi dua : dua ide sejati dan dunia semu (dunia yang jasmani). Pendapat ini diteruskan oleh Aristoteles (384 – 322 SM) walaupun titik pendekatannya berbeda. Pada jaman Patristik dan Skolastik, peranan agama Kristen begitu besar. Sehingga filsafat merekapun bertaut pada Kristenisme. Pada jaman Modern, semangat ilmu pengetahuan mengalami kemajuan. Jaman Kontemporer yangt erlihat: Fenomenologi, dan personalisme. Tekanan reflektif filosofis diberikan pada manusia yang unik, bebas, berekspresi, dan pribadi. Berbicara tentang filsafat seni, simbol-simbol perlu mendapat perhatian untuk mempertahankan segi “misteri” pengalaman manusia. Manusia bukanlah semat amanusia ilmu pengetahuan, tetapi manusia yang sadar lingkungan dan tidak terkungkung oleh rumusan ilmiah yang berpretensi begitu pasti dan meyakinkan (Susantina, 1996: 4). Filsafat seni dengan pergaulan diantara para filsuf seni, berbicara mengenai ide, makna, pengalaman, intuisi, semua menunjukkan sifat simbolik dari seni.

Cara Memahami Seni

Salah satu cara yang layak diikuti untuk memahami filsafat seni, yaitu dengan melacak jejak pemikiran para filsuf. (2)Dalam tulisan ini tidak semua filsuf dapat ditampilkan. Tulisan ini hanya mencoba mengemukakan beberapa filsuf yang dipandang mewakili jamannya. Untuk itu masih terbuka kesempatan yang lebih luas bagi yang berminat meneliti lebih jauh. Filsafat sebagai salah satu bentuk pemikiran reflekstif membutuhkan pemikiran refleksi. Pemikiran refleksi yang manual dari kesehariannya dijadikan titik tolak. tidak puas dengan penjelasanpenjelasan dasar yang diberikan oleh intuisi pertama, pemikiran berusaha mengkonstruksikan seluruh proses kerjanya berdasarkan basis pemikiran.(3)

Pemikiran tentang seni yang tertua dikemukakan oleh Plato pada awal abad ke – 4 SM, dan Aristoteles pada eprtengahan abad ke 4 SM. Dalam realitasnya persoalan seni sudah menjadi salah satu kesibukan dalam dunia filsafat. Plato menekankan seni sebagai keindahan intuisi dan kontemplasi. Dalam konsep filsafat, Plato melahirkan teori Mimesis yang melihat dunia materi hanya sebagai bayangan dari dunia nyata yang ada di atas, yaitu alam idea-idea yang bersifat rohani murni “ (Plato, 1955: 138). Melalui teori Mimesis tersebut Plato berpendapat bahwa : seorang seniman merupakan penjiplakan kelas dua, karena ia menjiplak dari sebuah jiplakan. Atau karya seni adalah meniru dari barang tiruan (mimesis dari mimesis).

“seorang seniman merupakan penjiplakan kelas dua, karena ia menjiplak dari sebuah jiplakan. Atau karya seni adalah meniru dari barang tiruan.”

— Plato

Bagi Plato, musik merupakan hasil karya seni yang baik.(4) Musik mempunyai kedudukan yang mutlak dalam pemerintahan, sebab mampu berpengaruh pada bidang moral dan politik. Namun, seniman tidak mendapat tempat di hati Plato, sebab kedudukan seniman dipandang lebih rendah dibanding dengan kedudukan seorang negarawan. Negarawan mampu menimbang, menganalisa, serta mengarahkan masyarakat berdasarkan idea-idea kebaikan, keadilan, keberanian, maupun ide keindahan. Sedangkan seniman hanyalah meniru keindahan yang ada di dunia ini. Inilah tesis Plato tentang seni yang hanya merupakan imitasi dari imitasi. Akibat dari imitasi ini terdapat banyak perubahan dari yang asli : Plato dalam dialognya yang berjudul Symposium, mengatakan bahwa seorang sastrawan, dan seniman mampu berekspresi dengan keindahan karena seniman mampu ekstase menuju alam idea, untuk melihat keadaan yang sebenarnya.

Aristoteles, dalam beberapa hal berbeda dengan gurunya, Plato. Namun, filsafat Aristoteles merupakan penyusunan sistematis terhadap persepsi Plato. Menurutnya, seni memang imitasi dari alam, namun sebenarnya dari luar alam. Imitasi dari seni membawa kebaikan. Karakter seni menjadi tugas filsafat untuk mencapai keharmonisan yang sempurna. Bagi Aristoteles keharmonisan musik merupakan campuran dari anasiranasir yang bertentangan tetapi terpadu dengan perbandingan tertentu. Anasir-anasir dalam musik terdiri dari : ritme, harmoni, nada, persenyawaan, semua dapat dikembalikan kepada keselarasan, keindahan (estetis). Ini bukan hal yang mengherankan, sebab musik memang berangkat dari kata-kata yang kurang mencukupi.

Hakikat Seniman dalam Filsafat

Dalam persepsi tentang seni, terdapat pandangan yang bertolak belakang antara Plato dan Aristoteles. Seorang seniman, menurut Aristoteles, harus berfikir secara logis dan psikologis. Karya musik terkait, dihubungkan oleh benang-benang logika. Namun, hal ini tidak berarti bahwa seorang seniman tidak dapat memasukkan hal-hal bersifat mustahil atau bahkan irrasional. Kemustahilan yang masuk akal dapat lebih baik dari pada hal-hal yang mungkin tidak masuk akal. Aristoteles berdiri dengan bijaksana pada simbolisme keindahan musik. Ia mempersoalkan : apa sebabnya bunyi dalam irama dan melodi bersatu sesuai dengan suasana-suasana perasaan manusia? Secara psikologis Aristoteles menganggap musik sebagai ucapan dari tenaga batin dan tenaga khsyal, dari gerak pperasaan. Dalam urutan bunyi yang berirama dan dihidupkan oleh pengalaman jiwa, didorong oleh ilham lalu diterima pendengar sebagai permainan yang menjiwai sehingga bukan hanya kesadar proyek rational, sekedar perbandingan nada semata (Susantina, 1987: 12)

Berkenaan dengan era Romantik ini dalam lingkungan para filsuf bidang seni, antara lain : Arthur Schopenhauer (1788-1860) dan Friendrich Nietzsche (1844-1900). Schopenhauer mengemukakan : Music is Ding an sich it self”, Lebih lanjut ia kemukakan bahwa :”Music is thus by no means like the other arts, the copy of the ideas, but the copy of the will it self, whose objectivity the ideas are (Carrol, 1954: 228). Ia mempertanyakan mengapa pengaruh musik begitu besar bahkan ada semacam penetrasi terhadap diri pribadi dibandingkan dengan seni yang lain (santra, misalnya) yang hanya merupakan bayang-bayang ucapan. Namun, musik mampu mengungkapkan makna lebih dari sekedar perasaan dan ucapan. Musik mampu berpengaruh disebabkan filsafat Shopenhauer bersifat pesimistis. Menurut dia ada dua cara manusia lepas dari tekanan-tekanan hidup. Pertama melalui musik sebagai suatu “penghentian” penetrasi. Kedua melalui pengingkaran diri (askese).

Filsuf Abad ke-19 – 20 yang cukup terkenal di bidang seni adalah Susanne K. Langer (1895-19…). Bidang seni baginya tidaklah asing lagi. Untuk membicarakan ide penciptaan karya seni dalam hal ini musik, ia menilainya dari filsafat seni pada umumnya. Ekspresi seni, menurutnya, adalah sama, namun bentuk ekspresi itulah yang berbeda-beda. Hal ini untuk menguatkan bahwa pemahaman seni tidak mungkin didekati secara menyeluruh. Karya Langer yang terkenal, yaitu Philosophy in a New Key (1942). Dalam buku ini ia mengemukakan teorinya yang ia beri nama dengan “teori simbol”, oleh sebab itu ia mendefinisikan seni senagai kreasi bentuk-bentuk simbolis dari perasaan manusia. Sebagai bentuk simbolis, seni merupakan universalisasi dari pengalaman.

Seniman dalam mencipta karya seninya, tentu diawali dengan perenungan hasil simbolisasi ekspresif. Khusus bidang musik, Langer berpendapat bahwa musik bukanlah seni yang paling universal, paling tinggi, dan yang paling ekspresif. Alasan apa ia berpendapat demikian? Pertanyaan ini merupakan tantangan untuk meneliti lebih jauh tentang pandangannya terhadap karya seni. Dalam musik, bunyi merupakan medium ini kita belum dapat mencapai tujuan yang tertinggi. Sebab bagi Langer tujuan tertinggi yang dapat mengungkap karya seni haruslah melalui simbolisasi. seniman dalam menciptakan karya seni sudah harus merenungkan dan merasakan pengalaman bahwa seniman dalam menciptakan karya seni sudah harus merenungkan dan merasakan pengalaman yang langsung itu, dan mentransfer menjadi pengalaman universal (umum) yang mampu dicerna oleh orang lain. Jadi menurut Langer, bentuk simbolis itu tidak menuju pada gejala secara langsung, melainkan pada pengalaman yang sudah disimbolkan. Untuk itulah karya seni tercipta akibat ungkapan simbolis, dan kegiatan ekspresi ide-ide ini terungkap cukup mencolok dalam tulisan Langer (Langer, 1942: 51).    

Selain para filsuf yang telah dikemukakan, nampaknya masih banyak filsuf-filsuf yang berbicara tentang filsafat seni, estetika pada khususnya dan seni pada umumnya. Mereka itu antara lain : Paul Ricoeur (1913- ), Emmanuel Livinas (1906-1995), Michael Foucault (1926-1984), dan Jacques Derrida (1930- ). Ini merupakan tantangan bagi kita yang sekaligus sebagai sandingan ketika seniman hendak berkarya. Boleh jadi ide-ide penciptaan dapat diilhami oleh cara kerja para filsuf yang kadang mengganggu, memuakkan, namun menjernihkan rasio, empiris, rasa, dan emosi kita.

Relevansi Filsafat dan Seni

Bertamasya dengan ide-ide serta karya-karya para filsuf, ternyata tidak segampang dari apa yang sebelumnya terbayangkan ketika terlontar pertanyaan :”Apa relevansi filsafat dan seni? Dan bila dipertajam lagi mengarah pada pertanyaan :”Apa kaitan filsafat denga kehidupan seniman? Selagi kita mendengar diskusi-diskusi, dialog-dialog yang mempertajam dan mempertanyakan eksistensi filsafat di suatu perguruan tinggi kenyataan demikian, belumlah dapat membuka tabir ketidakmengertian, bahkan ketakacuhan masyarakat seni, untuk apa sebenarnya kita peduli akan filsafat. Seni merupakan proses cipta, rasa, dan karsa. Seperti juga sains dan teknologi. Seni tidak akan ada bila manusia tidak dihadiahi daya cipta. Adapun yang membedakan proses cipta antara seni dengan sains dan teknologi adalah bahwa kreatifitas seni amat dipengaruhi oleh rasa (feeling emotion) sedemikian hebatnya, sehingga rasio yang hakekatnya hadir pada setiap manusia, kadang kurang mendapat tempat bagi seniman. Hal ini bukan berarti bahwa seniman tidak pernah bekerja secara rasional. Filsafat seni atau sering disebut “estetika”, semenjak jaman kuno sampai abad Modern, bahkan Kontemporer ini dalam mengkaji seni dari sudut pandang filsafat, justru rasio sering dominan. Bahkan beberapa filsuf berpendapat bahwa seni bukan semata-mata milik rasa, tetapi juga milik rasio. Hal ini menunjukkan bahwa seni sungguh manusiawi. Adalah Descrates yang mengatakan ,”cogito ergo sum”: Kant, “kritik der urteriskraft: Langer, “logika simbolik”. Semuanya mengarah bahwa skeptis yang metodis, membangun adanya keseimbangan rasio dan empiris dalam tingkat kesadaran yang menyertakan kreasi bentuk-bentuk simbolis dan perasaan manusia guna berkarya seni. 

Filsafat dan seni sebagai komunikasi yang kreatif, tetapi cara dan tujuannya berbeda. Filsafat adalah : usaha mencari kebenaran, sedangkan seni lebih pada kreasi dan menikmati nilai. Bahkan bila seni menggunakan bahasa seperti dalam sastra, penggunaan ini tidak sama dalam filsafat. Tujuan dari seni adalah membangkitkan emosi estetik, sementara dalam filsafat, bahasa adalah alat untuk mengucapkan kebenaran. Melalui filsafat seni, pemahaman tentang seni akan lebih kaya. Banyak hal yang dapat dipertanyakan. Namun, pertanyaan sebagai tantangan, bahwa filsafat seni bukan sekedar sejarah seni dan atau sejarah musik. Ketika kita bergelut dengan axiologi seni, pikiran-pikiran kita tertantang dengan pertanyaan “Bagaimana dengan epistemologi seni” Mungkinkah?” Melihat premis-premis seperti telah dikemukakan, dapatlah kita berkesimpulan, adanya filsafat seni merupakans esuatu yang sah; pemikiran-pemikiran kefilsafatan tentang seni merupakan tandingan dan sekaligus agar seni tidak berkembang secara naif.

Referensi

  1. Bertens. ringkasan sejarah filsafat. kanisius. yogyakarta; 1990. 
  2. hardiman, f  budi. para filsuf penentu gerak zaman. kanisius. yogyakarta; 1992
  3. Susantina S, Pemikiran A, Pada KF, Seni BF, Musik J, Yogyakarta ISI. FILSAFAT SENI : ANTARA PERTANYAAN DAN TANTNAGAN (Philosophy of Art : Between Question and Challenge). Harmon J Arts Res Educ. 2000;1(2):4–16.
  4. susantina  sukatmi. tinjauan filosofis tentang estetika musik. lembaga pe. yogyakarta; 1987.
Cara mengutip artikel ini (APA Style)

Azizah (2021, Juli 2) Filsafat sebagai Seni. Retrieved from https://mitrapalupi.com/filsafat-sebagai-seni/

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

As you found this post useful...

Follow us on social media!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

This Post Has One Comment

Leave a Reply