Anda Tidak Harus Menunggu Alasan Untuk Bahagia

You are currently viewing Anda Tidak Harus Menunggu Alasan Untuk Bahagia
5
(1)

Ditulis oleh Risya Agustiani, Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Djuanda

Dari mana asalnya bahagia?

Kebahagiaan didefinisikan sebagai kondisi psikologis yang positif, yang ditandai oleh tingginya kepuasan terhadap masa lalu, tingginya tingkat emosi positif, dan rendahnya tingkat emosi negatif (Carr dalam Astuti, 2007). Kebahagiaan sesungguhnya merupakan suatu hasil penilaian terhadap diri dan hidup, yang memuat emosi positif, seperti kenyamanan dan kegembiraan yang meluap-luap, maupun aktivitas positif yang tidak memenuhi komponen emosi apapun, seperti absorbsi dan keterlibatan (Seligman, 2005)

Seseorang selalu berpikir bahwa untuk bisa merasakan bahagia adalah dengan cara mengejar sesuatu yang akan membuatnya bahagia. Seperti menjadi juara satu di kelas, menjadi seseorang yang berguna bagi orang-orang di sekitarnya, menjadi anak yang membanggakan dan lain sebagainya. Sampai rasanya begitu lelah karena terlalu berambisi untuk mengejar itu semua. Hingga tanpa sadar, mereka melupakan sesuatu. Apakah setelah mencapai itu mereka benar-benar merasa bahagia? Puas? Mungkin untuk sebagian dari mereka akan menjawab “Iya” dan sebagiannya lagi merasakan kekosongan, merasa lelah dan merasa semua yang dia perjuangkan untuk mendapatkan kebahagian tersebut rasanya percuma, semua sia-sia.

Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa ternyata 80% kebahagian itu bersumber dari dalam diri manusia itu sendiri. Artinya, bahagia itu bisa diciptakan dan dapat diwujudkan bukan hanya sekedar memberi. Bahagia juga bukan sepenuhnya ditentukan oleh takdir, melainkan manusia itu sendiri lah yang lebih banyak berkontribusi. Sedangkan 20% lagi dipengaruhi oleh faktor luar. Seperti lingkungan, harta, kedudukan, pangkat dan sebagainya.

Sebuah penelitian yang di buat oleh Harvard University pun mengungkapkan setidaknya ada satu faktor penting yang dapat membuat seseorang bahagia yakni relasi kemanusiaan yang hangat, akrab, intens dan bermakna. Dalam membangun relasi, yang perlu diperhatikan adalah kualitas bukan kuantitas. Karena, semakin kualitas relasi tersebut baik maka relasi yang dibangun pun dapat membuat ketenangan dan kedamaian dalam hidup. Dimana hal ini juga dapat menentukan kebahagiaan seseorang. Untuk membangun relasi yang akrab, intens dan bermakna pun dibutuhkan komitmen yang kuat, pengertian, kesabaran, cinta-kasih, dan tanggung jawab. Memang sulit, namun tidak sedikit di antara kita berhasil membangun komitmen tersebut.

Meski begitu, rahasia hidup damai dan tenang tidak selalu bergantung pada hubungan kita dengan orang lain. Faktanya, kita juga bisa merasa kesepian di tengah banyak orang atau saat bersama kekasih hati jika kita tidak memiliki koneksi emosional.

Penelitian itu juga mengungkapkan berbagai perilaku yang dapat membuat seseorang bahagia, di antaranya: selalu berbuat baik, banyak bersyukur, mudah memaafkan, ringan tangan memberi pertolongan dan tidak dendam. Kelihatannya sangat mudah, tapi dalam prakteknya sangat sulit. Perilaku baik tersebut harus dibiasakan agar mentradisi dalam kehidupan kita.

Dari penelitian-penelitian di atas, dapat kita ketahui bahwa kebahagian itu pada dasaenya berasal dari diri kita sendiri, bukan orang lain. Orang lain hanyalah sebagai pemeran pendukung, karena sepenuhnya kebahagiaan kita adalah tanggung jawab kita. Kita yang menciptakannya dan hanya kita lah yang dapat mewujudkannya. 

Apa ada alasan untuk bahagia?

Jika mendapat pertanyaan, “Apa yang membuatmu bahagia?” apa yang akan kalian jawab? 
Membuat orang tuamu bangga?
Mempunyai uang yang banyak?
Makan, makanan favorit?
Membeli pakaian atau mainan yang kalian tunggu-tunggu?
Menonton konser?
Berkumpul dengan teman?
Mendapatkan hadiah favorit?
Atau, apa?

Tentu saja, banyak hal yang bisa membuat kita bahagia. Mulai dari hal-hal kecil sampai hal-hal yang besar.  Namun, tidak ada alasan khusus untuk kebahagian itu sendiri. Apa kebahagian akan selalu datang saat kita membuat bangga kedua orang tua kita? Tidak juga. Beberapa merasa terbebani dan merasa hidupnya menjadi tidak tenang. Atau kebahagiaan akan selalu terjadi ketika kita membeli pakaian yang kita inginkan? Tidak juga. Karena terkadang kita harus rela mengeluarkan uang yang sudah kita tabung untuk membeli pakaian tersebut. Mungkin jika kita memang ikhlas, kita bisa bahagia tapi jika tidak? Ya, meskipun pada akhirnya untuk kebutuhan diri sendiri tapi kita sebagai manusia terkadang sering kali mengeluh, seperti “Seandainya aku punya uang lebih. Pasti…” dan lagi-lagi kebahagiaan itu tidak bisa kita capai sepenuhnya.

Lantas, sebenarnya apa yang membuat kita bahagia? Mempunyai uang yang banyak? Mungkin iya. Dengan uang kita bisa membeli banyak hal yang kita inginkan. Dengan uang juga, kita bisa memberikan kebahagiaan kepada orang-orang di sekitar kita. Melihat mereka tersenyum, tertawa, pasti menyenangkan. Apalagi ketika belanja, pasti kita bisa membeli banyak barang tanpa harus mengkhawatirkan esok akan makan apa. 

Tapi terkadang untuk sebagian orang, uang tidak bisa menjamin kebahagiaan mereka. Banyak dari mereka yang mempunyai uang banyak, tapi harus berpisah dengan orang tua, istri/suami, dan anak-anaknya. Atau bahkan beberapa anak yang ekonominya terjamin, tetap merasa tidak bahagia karena jauh dari orang tua yang sibuk bekerja. Berarti… uang pun bukan menjadi tolak ukur untuk bisa membuat seseorang bahagia kan?

Katanya juga, seseorang bisa bahagia jika memiliki keluarga yang lengkap. Tetapi mereka lupa banyak orang diluar sana yang sudah tidak memiliki orang tua dan mereka tetap bisa hidup bahagia. Sedangkan mereka yang masih mempunyai orang tua uang lengkap pun terkadang merasa terbebani. Karena banyak dituntut untuk menjadi A, B atau apapun itu. Mempunyai keluarga yang lengkap pun ternyata bukan tolak ukur seseorang akan bahagia. 

Lantas, apa yang sebenarnya bisa membuat orang merasa bahagia? Semua faktor kebahagian tergantung pada diri kita sendiri. Coba tanamkan dalam diri rasa syukur yang kuat. Bersyukur akan apapun yang diterima. Mulai dari hal-hal kecil. 

Kebahagian bukanlah hal yang harus kamu tunggu, sebab pada dasarnya kebahagiaan adalah hal yang dapat kita ciptakan. Menjadi pribadi yang baik, ramah dan sopan selain membuat orang lain merasa senang, secara tidak langsung hal tersebut membuatmu bahagia karena mendapat pujian. Bahagia tidak melulu tentang materi. Tidak harus menunggu sampai kamu hebat atau mempunyai materi yang banyak. Bahagia, bisa kamu ciptakan mulai sekarang. Iya, sekarang.

Sebuah penelitian dari Harvard University menemukan beberapa hal yang berhubungan dengan prediksi kebahagiaan seseorang. Menurut data yang dikumpulkan dari kelompok studi Harvard, hal-hal yang kamu lakukan setiap hari bukanlah sesuatu yang bisa memprediksi seberapa bahagia dirimu. Hal yang kamu pikirkan saat melakukan sesuatu tersebutlah yang bisa memprediksi seberapa bahagia dirimu menjalani hidup. Pikiran memegang kuncinya. Jika kamu sedang mencuci piring dan pikiranmu fokus pada kegiatan mencuci piring itu, kemungkinan kamu punya hidup bahagia. Lucu kan?

Dalam penelitian ini, partisipan diminta untuk mengisi survey dan kuisioner melalui sebuah aplikasi. Mereka ditanyai apakah mereka memikirkan hal lain ketika melakukan aktivitas tertentu dan apakah aktivitas itu menyenangkan, biasa saja atau justru tidak menyenangkan?

Hasilnya, data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa kita cenderung berada dalam keadaan paling bahagia ketika kita memikirkan apa yang sedang kita lakukan sekarang. Misalnya kamu sedang makan mie ramen, kamu akan lebih bahagia jika pikiranmu terfokus pada semangkuk mie di depanmu, bukan memikirkan hal lain misalnya tugas kantor dan lain sebagainya.

Orang juga cenderung bisa mudah mengingat hal-hal yang ia lakukan jika ia memikirkan apa yang ia lakukan saat itu. Momen yang kamu lalui akan disimpan sebagai long-term memory dan akan mudah diingat dibanding ketika kamu melakukan sesuatu sedangkan pikiranmu melayang ke mana-mana atau sedang tak ada di situ.

Terlihat mudah memang mengatakannya, namun banyak orang tergoda untuk memikirkan hal lain selagi melakukan hal tertentu. Alasan banyak orang memikirkan hal lain saat melakukan sesuatu adalah karena ia tak merasa nyaman melakukan apa yang sedang dilakukan sekarang.

Mungkin itu jugalah alasan mengapa banyak orang mungkin lebih sering mengingat hari-harinya saat liburan dibanding hari-hari yang dilaluinya setiap hari saat bekerja.

Dari penelitian tersebut, dapat kita ambil bahwa kebahagiaan memang tidak perlu menunggu alasan khusus. Kebahagiaan bisa kita ciptakan kapanpun. Semuanya kembali kepada diri kita sendiri. Sejauh mana rasa syukur dan sebaik apa kita dalam menanggapi sesuatu. Karena kebahagiaan terletak pada pikiran, maka hanya kita yang mampu mengaturnya. Tidak ada alasan apapun selain diri kita sendiri. Maka, ciptakan bahagiamu dan resapi semua rasa yang ada di dalamnya. 

Sekali lagi, kebahagiaan bukanlah hal yang harus kamu kejar, bukan juga hal yang harus kamu tunggu. Kamu bisa menciptakannya dari hal-hal kecil, tanpa harus mengejar hal yang besar ataupun menunggu hal besar terjadi. Sebab, kebahagiaan itu ibarat seekor burung yang pemalu: semakin keras Anda berusaha menangkapnya, semakin jauh ia akan terbang.

Mengapa kita harus hidup bahagia?

Kebahagiaan memberikan dampak positif bagi seluruh aspek kehidupan.  Kebahagiaan membuat seseorang dapat menikmati hidupnya dengan baik. Perasaan positif yang kita punya akan membuat relasi yang dibangun bersama keluarga, pasangan dan teman menjadi lebih baik. Selain membangun relasi yang baik, rasa bahagia juga bisa membuat produktivitas kita meningkat. Pekerjaan yang kita kerjakan menjadi lebih maksimal. 

Bayangkan saja jika perasaan kita di penuhi oleh perasaan negatif, apa kita bisa hidup dengan damai dan tenang? Tentu tidak. Perasaan negatif akan membuat relasi yang kita bangun dengan keluarga, pasangan ataupun teman tidak akan terjalin dengan baik. Perasaan negatif membawa kita pada hal-hal yang buruk. Produktivitas kerja pun menjadi menurun dan tidak maksimal. Hal ini pun sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial kita. 

Maka perasaan bahagia ini harus kita miliki. Sesulit apapun kehidupan yang sedang kamu jalani, coba syukuri hal-hal kecil yang ada di dalamnya. Sebab, kamu berhak bahagia. Kebahagiaan akan membawamu pada kehidupan yang tenang dan damai. 

Untuk mencapai kebahagiaan, tentu kita mempunyai caranya masing-masing. Yang paling penting, jangan pernah menggantungkan kebahagiaan itu pada sesuatu yang besar. Kebahagiaan bukan tentang menunggu hal besar itu terjadi. Tetapi kebahagiaan adalah tentang sejauh mana kamu memiliki rasa syukur terhadap hal-hal kecil disekitarmu. 

Bahagia dan tetaplah bersyukur atas apa yang kamu punya. Sebab pada dasarnya, bahagia adalah fitrah atau bawaan alami manusia. Artinya, ia merupakan sesuatu yang melekat dalam diri manusia. Bahagia sudah seharusnya dimiliki oleh setiap manusia, karena menurut fitrahnya, manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kesempurnaan. Manusia adalah makhluk yang paling baik dan sempurna dibanding dengan makhluk lainnya. Hal ini telah dinyatakan oleh Allah dalam Al Qur’an sebagai berikut: 

“Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkat mereka di daratan dan lautan, dan Kami telah memberikan rezeki yang baik kepada mereka, dan Kami telah lebihkan mereka dari makhluk-makhluk lain yang telah Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”. 

DAFTAR PUSTAKA

  • Fuad, M. (2017). Psikologi Kebahagiaan Manusia. KOMUNIKA: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 9(1), 114–132. 
  • مختاري، پونه. شجاعي، معصومه. دانا، امير. (1386). Kajian Teori Kebahagiaan. 32 ، ص 117.
Cara Mengutip Artikel ini

Agustiani, R. (2021 Agustus 4) Anda Tidak Harus Menunggu Alasan Untuk Bahagia. Retrieved from https://mitrapalupi.com/anda-tidak-harus-menunggu-alasan-untuk-bahagia

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

As you found this post useful...

Follow us on social media!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Leave a Reply